- Pemerintah Indonesia memproyeksikan pasar furnitur global akan melampaui 1,1 triliun dolar AS pada tahun 2034 mendatang.
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan neraca perdagangan industri furnitur Indonesia berhasil mencatatkan surplus berkelanjutan sejak tahun 2021.
- Deputi Edi Prio Pambudi mengungkapkan pangsa pasar furnitur Indonesia di Amerika Serikat baru mencapai empat persen saja.
Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memproyeksikan pasar furnitur global bakal mengalami lonjakan nilai signifikan dalam satu dekade ke depan.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi mengungkapkan bahwa sekitar 62 persen dari pasar mebel dunia merupakan furnitur berbahan dasar kayu, yang mana ini sebuah sektor yang menjadi salah satu keunggulan utama Indonesia.
"Kami memperkirakan pasar furnitures dunia sekarang nilainya kurang lebih 736 miliar dolar AS pada tahun 2025 dan akan diproyeksi melampaui 1,1 triliun dolar pada tahun 2034 nanti. Nah, sekitar 62 persen di antaranya adalah furnitures kayu, di mana ini adalah bagian yang kita unggul," ujar Edi dalam konferensi pers yang digelar di Tangerang, Kamis (24/9/2026).
Meskipun potensi pasar luar negeri sangat luas, porsi ekspor furnitur Indonesia di negara-negara tujuan utama tercatat masih relatif kecil. Di Amerika Serikat misalnya, furniture Indonesia baru menguasai 4 persen pasar.
"Untuk Amerika Serikat sendiri impor furnitures itu mencapai 55, 52 miliar US Dollar dan kita baru mengisinya 4%. Jadi ruang untuk tumbuh itu masih sangat besar," lanjut Edi.
Sementara itu Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kinerja neraca perdagangan industri furnitur Indonesia mencatatkan surplus berkelanjutan.
"Neraca perdagangan industri furniture telah surplus sejak tahun 2021. Nilai ekspor tahun lalu sebesar 2,2 miliar (Dolar AS) dan impor sebesar 1,9 miliar (Dolar AS), sehingga terjadi surplus sebesar 473 juta dolar AS," terang Airlangga di sesi yang sama
Airlangga menambahkan, pencapaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-25 sebagai negara eksportir furnitur dunia, dengan Amerika Serikat sebagai pasar serapan terbesar.
"Indonesia menempati peringkat ke-25 sebagai eksportir furniture dunia di tahun lalu dan pangsa pasar di Amerika sebesar 0,77 persen dan juga serapannya adalah 60 persen daripada ekspor furniture Indonesia," kata Menko Airlangga.
Pemerintah pun optimistis peluang ekspansi ekspor mebel Indonesia akan semakin deras seiring makin terbukanya jalan diplomasi perdagangan internasional dengan berbagai negara mitra.
"Pintu pasar dunia sekarang sudah terbuka. Paling tidak kami mencatat ada 50 negara yang sekarang sudah terbuka untuk kita. Februari lalu kita sudah membuka pasar dengan Amerika Serikat, kemudian dengan Eropa yang sebentar lagi akan diselesaikan, dan ini sudah mencerminkan seluruh pasar dunia. Bahkan tarifnya pun sudah mendekati nol," jelas Edi.
Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, pemerintah mendorong para pelaku industri nasional untuk meningkatkan nilai tambah produk melalui desain, inovasi, serta kepatuhan pada standar keberlanjutan global.