Suara.com - Sebuah temuan mengejutkan muncul dari Cheyenne, ibu kota negara bagian Wyoming, Amerika Serikat. Pengujian rutin terhadap air limbah yang dibuang dari proyek pembangunan data center raksasa milik Meta mendeteksi keberadaan bakteri langka dan berpotensi berbahaya bernama Cupriayidus gilardii.
Meski air limbah yang dialirkan ke sistem sanitasi kota itu tidak pernah ditujukkan untuk air minum warga, temuan ini tetap mengkhawatirkan. Pasalnya, sekitar 801.000 galon air yang dibuang oleh kontraktor proyek data center tersebut mencemari sistem air daur ulang kota, air yang justru digunakan untuk irigasi lapangan, taman kota, dan ruang terbuka hijau lainnya.
Melansir dari laman The Guardian, kekhawatiran muncul karena warga berpotensi terpapar bakteri tersebut jika menghirup percikan air yang menguap saat digunakan untuk irigasi. Butuh waktu hingga juli sebelum akhirnya pejabat Cheyenne memutuskan mengehentikan penerimaan limbah dari Goat System, kontraktor Meta yang menangani proyek tersebut, kini keputusan tersebut tengah diajukan banding oleh pihak kontraktor.
Dua Instalasi Pengolahan Air Sempat Lumpuh
Dampak kontaminasi ini tidak main-main. Dua fasilitas pengolahan air terpaksa dihentikan operasinya sebagai bagian dari operasi dekontaminasi dan pembersihan yang berlangsung berbulan-bulan. Menurut laporan Heatmap News, kontaminasi sebenarnya sudah terdeteksi sejak Februari 2026, ketika staf badan pengelola utilitas publik Cheyenne pertama kali menemukan zat asing tersebut dan langsung menutup akses publik ke sistem air daur ulang kota.
Cupriavidus gilardii sendiri dikenal sebagai bakteri lingkungan yang biasa ditemukan di tanah dan air, serta memiliki ketahanan terhadap logam berat. Kasus infeksi akibat bakteri ini tergolong jarang, namun para pakar mencatat bahwa infeksi umumnya menyerang orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau sistem imun yang lemah, dan dalam kasus tertentu bisa berakibat fatal.
Meta Membantah, Politisi Ikut Bersuara
Menanggapi temuan tersebut, pihak Meta menyatakan bahwa Fortis (perusahaan konstruksi yang disewa Meta dan Goat Systems) yang secara menangani pembuangan air di lokasi proyek. Meta juga mengklaim Fortis tidak dapat memverifikasi ulang keberadaan bakteri tersebut dalam sampel air pembanding yang mereka ambil sendiri.
Kasus ini turut menyeret nama politisi. Harriet Hageman, anggota Kongres dari Partai Republik yang dikenal sebagai sekutu dekat Donald Trump, melayangkan surat kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg, menuntut penjelasan atas insiden pencemaran ini. Dalam suratnya, Hageman menegaskan pentingnya air sebagai sumber daya berharga bagi Wyoming.
"Water is a precious resource in our state," tulis Hageman mengutip The Guardian, yang menyebut kontaminasi ini sebagai hal yang sangat memprihatinkan mengingat sistem tersebut awalnya dipasarkan untuk mengurangi konsumsi air data center.
Insiden Cheyenne bukan kasus tunggal. Menurut investigasi TechRadar, pelanggaran serupa terkait pembuangan limbah data center juga tercatat di Virginia, New York, dan Georgia mulai dari pelanggaran regulasi lahan basah hingga limpasan air hujan yang menyebabkan banjir di kawasan permukiman dekat proyek data center di West Virginia.
Fenomena ini menjadi sorotan seiring pesatnya pembangunan infrastruktur AI di Amerika Serikat, yang membutuhkan pasokan air masif untuk sistem pendingin.
Insiden Cheyenne bahkan disebut sejumlah pengamat sebagai kasus pertama kontaminasi mikroba yang terkait langsung dengan proyek data center AI, sekaligus menjadi peringatan bahwa ekspansi teknologi ini tidak lepas dari risiko kesehatan publik yang nyata bagi masyarakat sekitar.
Hingga kini, proses banding atas keputusan pemutusan penerimaan limbah dari kontraktor Meta masih berjalan, sementara transparansi lebih lanjut dari pemerintah kota Cheyenne dijanjikan akan diumumkan dalam waktu dekat.