Naik 3,1 Sentimeter: Mengapa Muka Laut Bisa Ancam Jutaan Orang?

Jum'at, 25 September 2026 | 16:15 WIB
Pemandangan yang menakjubkan dari gletser besar yang dikelilingi oleh air es dalam iklim kutub yang dingin. (dok.Pexels/Gaspar Zaldo)

Suara.com - Kenaikan muka laut global sekitar 3,1 sentimeter mungkin terlihat kecil. Namun, perubahan itu dapat berdampak besar bagi masyarakat pesisir karena meningkatkan risiko banjir.

Salah satu penyebabnya adalah hilangnya es dari dua lapisan es terbesar di dunia, Greenland dan Antartika. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Data menemukan sekitar 12,5 triliun ton es dari kedua wilayah tersebut telah hilang sejak 1979.

Jumlah itu setara dengan hampir 3 kuadriliun galon atau sekitar 11,3 kuadriliun liter air. Lelehan es tersebut turut berkontribusi terhadap kenaikan muka laut global sekitar 3,1 sentimeter selama periode yang sama.

Ines Otosaka, ilmuwan es dari Northumbria University sekaligus peneliti utama studi tersebut, mengatakan dampak kenaikan muka laut tidak berhenti pada perubahan permukaan laut.

“Setiap kali air laut naik sekitar 1 sentimeter (atau sepertiga inci), bakal ada tambahan 2 sampai 3 juta orang di dunia yang kebanjiran minimal sekali setahun,” katanya.

Artinya, setiap kenaikan muka laut 1 sentimeter berkaitan dengan tambahan 2–3 juta orang yang berpotensi mengalami banjir setidaknya sekali dalam setahun.

Kehilangan Es Semakin Cepat

Penelitian tersebut menunjukkan kehilangan es di Greenland dan Antartika tidak berlangsung dengan kecepatan yang sama dari waktu ke waktu.

Pada 1970-an, 1980-an, hingga sebagian besar 1990-an, lapisan es relatif stabil. Kondisi itu mulai berubah pada 2010-an ketika kehilangan massa es meningkat, terutama akibat semakin banyak es yang mengalir ke laut.

“Ada pola yang jelas bahwa lapisan es kehilangan banyak massanya dan jumlahnya terus meningkat dari dekade ke dekade, terutama jika kita melihat es yang hanyut ke laut,” ujar Otosaka.

Perubahan ini tidak semata-mata disebabkan oleh mencairnya permukaan es akibat udara yang lebih panas. Sebagian besar kehilangan es justru berkaitan dengan proses dinamis yang mendorong es bergerak menuju laut.

Sekitar lima per enam kehilangan es dalam penelitian tersebut tidak berasal langsung dari pemanasan udara. Air laut yang lebih hangat turut mengikis lapisan es dari bagian bawah dan samping, sehingga mendorong gletser mengalir ke laut.

Salah satu contohnya adalah Jakobshavn Glacier di Greenland. Menurut Otosaka, gletser tersebut kini mengalami kemunduran hingga sekitar 50 meter per hari.

Perlambatan 2020–2023 Bukan Berarti Tren Berbalik

Kehilangan massa es sempat melambat pada 2020–2023. Namun, kondisi itu tidak menunjukkan bahwa tren pencairan jangka panjang telah berbalik.

Pada periode tersebut, kondisi Antartika turut dipengaruhi tingginya curah salju di Antartika Timur. Rekor salju di wilayah itu membantu mengimbangi pencairan yang berlangsung cepat di West Antarctic Ice Sheet atau Lapisan Es Antartika Barat.

Karena itu, perlambatan tersebut dinilai hanya sebagai perubahan sementara dalam tren kehilangan es jangka panjang.

Eric Rignot, ilmuwan es dari University of California, Irvine, menyebut kondisi tersebut sebagai gangguan kecil dalam tren jangka panjang.

“Secara jangka panjang ini masalah iklim, dan ancamannya sudah kelihatan jelas sekali,” ujarnya.

Dengan kata lain, perlambatan selama beberapa tahun tidak mengubah gambaran besar tentang peningkatan kehilangan es yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Dampaknya Bisa Berlangsung Puluhan Tahun

Para peneliti juga menyoroti adanya jeda antara pemanasan global dan respons lapisan es. Perubahan pada lapisan es dapat terus berlangsung selama beberapa dekade setelah pemanasan terjadi.

Andrew Shepherd, ilmuwan dari Northumbria University dan salah satu peneliti studi tersebut, mengatakan kondisi ini perlu menjadi perhatian karena lapisan es merespons perubahan iklim secara perlahan.

“Ini harus jadi perhatian. Sebab, perubahan alam sangat lambat untuk merespons pemanasan global,” katanya.

Artinya, upaya mengurangi pemanasan global yang dilakukan saat ini tidak serta-merta menghentikan perubahan pada lapisan es. Responsnya dapat terus berlangsung selama puluhan tahun.

Para peneliti juga mengamati bahwa proses dinamis pada lapisan es dapat berlangsung semakin cepat dan aktif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketidakstabilan lapisan es.

David Holland, ahli dari New York University, mengatakan sebagian besar kehilangan es yang terjadi secara dinamis menjadi perhatian para ilmuwan.

“Tren kenaikan ini benar-benar terjadi,” ujarnya.

Penelitian tersebut menggunakan 45 survei lapangan dan data dari 27 satelit untuk memantau perubahan lapisan es selama beberapa dekade.

Dengan demikian, kenaikan muka laut sebesar 3,1 sentimeter bukan sekadar perubahan angka di permukaan laut. Di baliknya, terdapat 12,5 triliun ton es yang telah hilang dari Greenland dan Antartika, yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir di kawasan pesisir.

Dampak kehilangan es pun tidak berhenti di wilayah kutub. Ketika es terus menghilang dan mengalir ke laut, perubahan di Greenland dan Antartika dapat meningkatkan kerentanan masyarakat pesisir di berbagai belahan dunia.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com