- Analis politik Arifki Chaniago menyatakan Jokowi menunjukkan KTA PSI pada Senin, 28 September 2026.
- Langkah tersebut membawa modal politik mantan presiden yang memaksa partai lain menghitung ulang peta Pemilu 2029.
- Popularitas Jokowi harus dikonversi PSI menjadi struktur organisasi dan kursi nyata agar berdampak di lapangan.
Suara.com - Keputusan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) secara terbuka menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai menjadi dinamika politik penting yang berpotensi memengaruhi kalkulasi partai-partai politik menjelang Pemilu 2029.
Analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menekankan, bahwa langkah ini membawa variabel baru yang patut diperhitungkan oleh konstelasi partai nasional.
“Partai lain bukan takut, tapi mulai menghitung ulang. Mereka tidak boleh pura-pura tidak melihat. Jokowi masuk PSI berarti ada variabel baru dalam kalkulasi politik 2029. Dan setiap variabel baru pasti mengubah cara partai lain membaca peta permainan.” ujar Arifki kepada Suara.com, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, pengaruh utama bergabungnya Jokowi terletak pada political capital, jejaring relawan, serta pengalaman elektoral yang ia miliki selama dua periode memimpin Indonesia.
“KTA-nya kecil, tapi efek politiknya bisa besar. Karena yang masuk ke PSI bukan hanya Jokowi sebagai individu, tetapi juga political capital yang melekat pada dirinya sebagai mantan presiden dua periode, Itu yang membuat langkah ini tidak bisa dianggap biasa oleh partai lain.” katanya.
Meski mampu bertindak sebagai magnet politik yang berpotensi meningkatkan daya tawar PSI, Arifki memberikan catatan bahwa masuknya sosok Jokowi bukanlah jaminan instan tanpa kerja keras mesin partai di lapangan.
“Jokowi bisa menjadi political magnet bagi PSI. Tetapi pertanyaannya bukan lagi apakah Jokowi populer. Pertanyaannya, apakah popularitas itu bisa dikonversi menjadi kekuatan organisasi, suara, dan kursi. Kalau bisa, efeknya terhadap peta politik 2029 tentu akan terasa.” ujarnya.
Ia menambahkan, dorongan figur tetap memerlukan pembuktian konkrit pada struktur organisasi PSI.
“Jokowi bukan tongkat sulap. Dia bisa memberikan daya ungkit, tetapi PSI tetap harus membuktikan diri di lapangan. Popularitas Jokowi harus diterjemahkan menjadi kader, struktur, suara, dan kursi. Di situlah ujian sebenarnya.” katanya.
Lebih lanjut, kehadiran mantan presiden dua periode tersebut diprediksi akan mengubah lanskap komunikasi antarpartai serta memaksa partai lain mengukur sejauh mana jangkauan pengaruh Jokowi dalam memperkuat posisi PSI.
“Yang harus dihitung partai lain bukan berapa kader PSI hari ini. Yang harus dihitung adalah seberapa jauh Jokowi mampu menarik jaringan politiknya masuk ke dalam orbit PSI. Itu dua hal yang berbeda.” tegasnya.
Lebih lanjut, Arifki menegaskan, bahwa keterlibatan Jokowi menjadikan peta persaingan politik menuju 2029 makin dinamis dan patut diwaspadai oleh para pemain politik lainnya.
“Jokowi masuk PSI membuat papan catur 2029 bertambah satu bidak penting. Belum tentu PSI langsung menjadi kekuatan besar, tetapi pemain lain sekarang punya satu variabel baru yang harus dihitung. Dan dalam politik, sesuatu yang harus dihitung berarti tidak bisa lagi dianggap remeh.” pungkasnya.