Jokowi Hanya Jadi Role Model Kader PSI, Pakar: Bukan Panutan Masyarakat Luas

Senin, 28 September 2026 | 11:56 WIB
Presiden ke-7 RI, Jokowi meminta seluruh kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bekerja lebih keras memperkenalkan partai kepada masyarakat. [Suara.com/dok]
BACA 10 DETIK
  • M. Jamiluddin Ritonga menyatakan bergabungnya Joko Widodo sebagai kader PSI berpotensi memperkuat dinamika internal partai.
  • Pengamat politik tersebut menyampaikan hal itu pada hari Senin, 28 September 2026, di Universitas Esa Unggul.
  • Kehadiran Jokowi dinilai memotivasi kader bekerja langsung, tetapi tidak signifikan mendongkrak dukungan eksternal masyarakat.

Suara.com - Bergabungnya Joko Widodo atau Jokowi sebagai kader resmi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai lebih berpotensi memengaruhi dinamika internal partai ketimbang mendongkrak dukungan PSI di tengah masyarakat.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, mengatakan keberadaan Jokowi bisa menjadi penyemangat bagi kader PSI untuk lebih aktif melakukan kerja-kerja politik di lapangan.

“Resminya Jokowi menjadi kader bisa saja berdampak terhadap penguatan di internal PSI. Bisa saja kader PSI lainnya lebih termotivasi untuk melakukan kerja-kerja politik dengan turun langsung ke masyarakat untuk mendulang suara,” kata Jamiluddin, Senin (28/9/2026).

Menurut dia, kehadiran Jokowi juga dapat menjadi pendorong bagi PSI untuk memperkuat konsolidasi organisasi. Salah satunya dengan membenahi struktur kepengurusan partai di berbagai daerah hingga tingkat ranting.

Jamiluddin menilai pengaruh tersebut dapat muncul karena Jokowi dipandang sebagai role model oleh kader PSI.

“Karena itu, wajar bila kader PSI manut terhadap Jokowi,” katanya.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menggelar safari politik ke Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam safari politiknya, Jokowi hadir dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kabupaten Bekasi, Minggu (27/9/2026). [Suara.com/dok]

Namun, Jamiluddin membedakan kemungkinan pengaruh Jokowi di internal PSI dengan pengaruhnya terhadap masyarakat di luar partai.

Menurut dia, posisi Jokowi sebagai figur panutan bagi kader PSI tidak otomatis membuat masyarakat di luar PSI memiliki sikap yang sama terhadap mantan presiden tersebut.

“Namun hal itu kiranya sulit terjadi di eksternal PSI. Sebab Jokowi bukanlah role model bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Karena itu, Jokowi bukan panutan mereka, sehingga tidak akan patuh apalagi mengikuti kehendak Jokowi,” ujar Jamiluddin.

Ia juga menilai basis pendukung Jokowi yang dapat memberikan dampak langsung terhadap perolehan suara PSI relatif terbatas.

“Kalau pun Jokowi dapat menjadi magnet massa, hal itu bisa jadi hanya terbatas pada pendukung fanatiknya. Basis massa dan loyalis Jokowi jumlahnya relatif terbatas, karena itu tidak cukup signifikan untuk mendongkrak elektoral PSI, termasuk menyumbang suara pada Pileg mendatang untuk mengantarkan PSI ke Senayan,” katanya.

Karena itu, menurut Jamiluddin, bergabungnya Jokowi sebagai kader dapat memberikan ruang bagi penguatan kerja organisasi PSI di internal partai, sementara pengaruhnya terhadap masyarakat di luar PSI merupakan persoalan berbeda.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com