- Harga minyak mentah global menguat lebih dari satu persen pada hari Senin akibat penolakan Donald Trump terhadap proposal damai Iran.
- Pasar khawatir terhadap kerentanan pasokan global setelah pasukan koalisi Arab Saudi mencegat serangan rudal dan drone kelompok Houthi.
- Volume ekspor minyak Timur Tengah melonjak mencapai 12,8 juta barel per hari pada bulan September menurut data Kpler.
Suara.com - Pergerakan harga komoditas minyak mentah di pasar global kembali mencatatkan penguatan (rebound) lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin. Dorongan kenaikan harga ini dipicu oleh sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara tegas menolak kesepakatan damai dari Iran. Penolakan terhadap proposal yang bertujuan menyelesaikan konflik dan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz tersebut secara otomatis membuat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah tetap berada pada level yang tinggi.
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 00.36 GMT, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent mengalami lonjakan sebesar US1,32atausekitar1,27persen,membawanyabertenggerdilevelUS105,64 per barel.
Tren positif yang sama juga dicatatkan oleh patokan minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), yang menguat 70 sen atau 0,76 persen menuju level US$93,11 per barel.
Pihak Teheran mengklaim bahwa usulan tersebut telah disalurkan kepada pihak Amerika Serikat melalui perantara (mediator) dari Qatar. Namun, pada hari Sabtu, Trump menegaskan penolakannya terhadap kerangka rencana tersebut.
Menariknya, dalam sebuah wawancara telepon dengan Axios pada hari Minggu, Trump mengisyaratkan bahwa negosiator AS kemungkinan masih akan terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut pada pekan ini.
"Risiko geopolitik tetap tinggi seiring berlanjutnya serangan Houthi dan Iran terhadap Arab Saudi, yang membuat arus pasokan di kawasan tersebut menjadi rentan," ungkap analis ANZ dalam catatan risetnya.
Kekhawatiran pasar terhadap kerentanan pasokan tidak lepas dari realitas di lapangan yang masih diwarnai aksi militer. Pada Sabtu pagi, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melaporkan telah berhasil mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat tak berawak (drone).
Berdasarkan laporan koalisi, proyektil mematikan tersebut diluncurkan oleh kelompok Houthi yang mendapat dukungan penuh dari Iran, dengan target wilayah kerajaan Saudi.
Melihat kembali kinerja pekan lalu, pergerakan kedua acuan harga minyak dunia ini mencatatkan hasil yang cukup kontras. Saat minyak Brent mampu merangkak naik tipis 0,4 persen, minyak WTI justru terpuruk hingga 7,9 persen.
Anjloknya WTI didorong oleh spekulasi pasar yang khawatir bahwa pemerintah AS mungkin akan memberlakukan pelarangan ekspor solar demi menekan rekor harga di dalam negeri, sebuah langkah kebijakan yang berpotensi memangkas laju produksi penyulingan minyak AS.
"Produk minyak olahan tetap menjadi titik tekanan, di mana rekor harga diesel AS memperparah risiko inflasi dan memicu kembali perdebatan mengenai potensi pembatasan ekspor," ungkap analis ANZ.
Tim analis tersebut juga menambahkan bahwa setiap bentuk pembatasan atau restriksi terhadap ekspor solar AS akan secara langsung memperketat ketersediaan pasokan di luar pasar domestik AS. Pasar Eropa diproyeksikan akan menjadi pihak yang paling cepat bereaksi terhadap prospek penyusutan pasokan dari Negeri Paman Sam tersebut.
Sementara itu, di tengah memanasnya tensi geopolitik, arus ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah justru mulai memperlihatkan pemulihan yang signifikan.
Berdasarkan data awal yang dirilis oleh perusahaan analitik Kpler pada hari Senin, volume ekspor minyak dari kawasan tersebut melonjak mencapai 12,8 juta barel per hari pada bulan September. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sejak meletusnya perang pada bulan Februari, yang utamanya ditopang oleh agresivitas peningkatan ekspor dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Pemulihan arus komoditas energi ini berjalan beriringan dengan normalisasi pengiriman armada kapal tanker melalui Selat Hormuz, yang diproyeksikan akan menyentuh angka 7,4 juta barel per hari pada bulan ini.
Peningkatan aktivitas logistik di selat tersebut tidak terlepas dari langkah strategis Arab Saudi yang terpaksa mengalihkan rute ekspornya dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah menuju pelabuhan Ras Tanura di wilayah timur, menyusul serangkaian serangan yang sempat melumpuhkan fasilitas pipa minyak East-West milik perusahaan energi negara tersebut.