Suara.com - Iran menegaskan kesiapan melumpuhkan seluruh lalu lintas udara di Timur Tengah jika maskapainya terus diisolasi dari penerbangan internasional. Penegasan keras ini merespons eskalasi sanksi ekonomi Amerika Serikat yang menjepit armada penerbangan Tehran.
Gebrakan diplomasi berisiko tinggi tersebut mengubah peta perseteruan regional menjadi ancaman nyata bagi keselamatan navigasi udara. Tehran menilai sikap tunduk negara tetangga terhadap embargo Washington sebagai bentuk permusuhan terbuka.
Pemerintah Iran memastikan setiap negara yang mendukung skenario isolasi udara ini harus bersiap menanggung konsekuensi serupa. Konflik ini membuktikan bahwa efek perang ekonomi kini merembet langsung ke sektor logistik global.
Dalam pesan menohok di platform X, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran Mohammad Mokhber menegaskan posisi politik negaranya secara terbuka.
"Strategi kami dalam masalah ini jelas, perjalanan udara di kawasan ini tersedia bagi semua pihak atau tidak bagi siapa pun. Jika Iran tidak dapat melakukan perjalanan udara dan menerima layanan bandara, maka tidak ada negara di kawasan ini yang dapat melakukannya juga," kata Mokhber.
Mokhber menyampaikan pesan peringatan tegas kepada jajaran pemerintah di kawasan Timur Tengah yang mengikuti kemauan diplomasi Washington. Sikap koperatif negara-negara tersebut terhadap sanksi Amerika Serikat dinilai sebagai tindakan yang memicu dendam politik panjang.
Keputusan negara-negara kawasan untuk berpihak pada AS dalam menerapkan "kebijakan bermusuhan" akan terus diingat oleh rakyat Iran, katanya.
Gelombang pemblokiran jalur udara terhadap maskapai penerbangan Iran memang meluas secara drastis sepanjang pekan ini. Kebijakan diskriminatif tersebut merupakan turunan langsung dari paket sanksi baru Amerika Serikat untuk melumpuhkan operasi luar negeri Iran.
Otoritas penerbangan di regional mulai memutus akses logistik udara bagi armada transportasi milik Iran secara serentak. Bandara Internasional Najaf di Irak mendadak menghentikan operasional seluruh penerbangan dari dan menuju wilayah Iran pada Jumat (25/9) sampai batas waktu tidak ditentukan.
Langkah serupa diambil Uni Emirat Arab yang resmi menyetop operasional maskapai dari dan ke Iran sejak Kamis (24/9). Pihak Otoritas Penerbangan Sipil Umum Uni Emirat Arab menyebutkan pembatasan AS yang diberlakukan terhadap maskapai penerbangan Iran sebagai alasan utama penutupan akses tersebut.
Tekanan geopolitik ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent secara resmi. Ia mengumumkan operasi maskapai penerbangan Iran di seluruh dunia akan terhenti mulai 23 September sebagai bagian dari sanksi baru, seiring dengan berlanjutnya upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Ketegangan lintas udara ini merupakan buntut panjang dari kebuntuan negosiasi damai yang melibatkan pihak militer Amerika Serikat. Meskipun sempat tercipta nota kesepahaman pada Juni lalu, perundingan damai tuntas berakhir nihil akibat sengketa hak navigasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri memegang peranan sangat vital sebagai urat nadi distribusi minyak dunia dan jalur logistik global. Kegagalan mencapai kesepakatan di titik krusial tersebut akhirnya menyeret transportasi udara regional ke dalam krisis keamanan yang fatal.