Iran Menutup Pintu Negosiasi Baru dengan Amerika Serikat di Sidang Umum PBB

Senin, 28 September 2026 | 09:27 WIB
Rudal Iran (Tasnimnews)
BACA 10 DETIK
  • Iran membatalkan rencana perundingan putaran baru bersama Amerika Serikat di New York.

  • Menlu Abbas Araghchi tetap menunggu jawaban resmi AS atas proposal Selat Hormuz.

  • Konflik diplomasi kedua negara melatarbelakangi ketegangan rute pelayaran energi di Selat Hormuz.

Suara.com - Delegasi Republik Islam Iran menyetop rencana diskusi lanjutan bersama diplomat Amerika Serikat selama agenda Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Keputusan ini membatalkan spekulasi publik mengenai peluang diplomasi tatap muka tambahan antar kedua negara rival tersebut.

Langkah tegas Teheran menandai kebuntuan baru dalam diplomasi Timur Tengah, terutama setelah usulan pembukaan jalur vital Selat Hormuz menggantung tanpa kepastian.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Iran dan AS menyepakati pakta damai untuk membuka kembali jalur perdagangan Selat Hormuz. (IRNA)

Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya mengonfirmasi adanya kontak tidak langsung dengan diplomat Washington melalui perantara pejabat Qatar.

Proses komunikasi rahasia tersebut berlangsung di sela-sela kesibukan agenda tahunan PBB di New York.

“Tidak ada rencana untuk putaran pembicaraan baru dengan pihak AS dalam agenda perwakilan Iran. Menteri luar negeri akan kembali ke Iran pada Selasa (29/9) setelah menyelesaikan agenda yang telah dijadwalkan,” kata sumber tersebut kepada IRNA.

Pemerintah Iran memilih fokus menyelesaikan jadwal kerja utama ketimbang mengejar kompromi diplomatik yang dinilai melambat.

Meski demikian, pihak Teheran mengklaim masih menunggu respons tertulis mengenai tawaran taktis yang telah dikirimkan ke pihak Gedung Putih.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkap telah menyodorkan draf skema durasi seminggu demi memulihkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Proposal tersebut disalurkan secara tertutup lewat negara ketiga guna menekan potensi bentrokan militer di wilayah perairan strategis dunia.

Presiden Donald Trump secara terbuka sempat menyampaikan penolakan terhadap draf perdamaian yang diajukan oleh pihak penguasa Teheran.

Sikap keras Gedung Putih ini memperlihatkan jurang perbedaan pandangan yang amat mendalam di antara kedua belah pihak.

Namun, pada Sabtu malam, Araghchi mengatakan Iran masih menunggu tanggapan final AS melalui para perantara terkait proposal Teheran mengenai Selat Hormuz, meskipun Trump telah menyatakan menolaknya.

Pernyataan Menlu Iran mengindikasikan adanya celah jalur belakang (backchannel) yang terus dimanfaatkan Teheran sebelum mengambil keputusan final.

Ketegangan di jalur pelayaran energi global ini bermula dari ancaman pemblokiran akses maritim serta pengetatan sanksi ekonomi terhadap industri minyak Iran.

Sebagai respons pertahanan, Teheran memanfaatkan posisi geografisnya di Selat Hormuz untuk menekan negara-negara Barat dan memperkuat posisi tawar diplomatiknya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com