Bukan Habis Stok, Menkes Tegaskan Obat Influenza A Ada, Tapi Pemberian Tak Boleh Sembarang

Senin, 28 September 2026 | 19:03 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2026). [Suara.com/Bagaskara]
BACA 10 DETIK
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan stok obat Oseltamivir tersedia di rumah sakit untuk pasien bergejala berat.
  • Penggunaan Oseltamivir dibatasi ketat guna mencegah resistensi obat yang berbahaya bagi penanganan kasus influenza parah.
  • Kemenkes mencatat kenaikan kasus influenza tipe A di Indonesia pada minggu ke-38 tahun 2026 masih terkendali.

Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan stok Oseltamivir, obat untuk influenza tipe A tersedia di berbagai rumah sakit.

Hanya saja obat tersebut tidak bisa diberikan secara sembarang.

“Obat flu, flu itu sebenarnya kalau tanya dokter-dokter ya, itu harusnya dijaga agar imun sistem kita ngatasin itu sendiri. Obat yang ada, Oseltamivir, kita ada di rumah sakit-rumah sakit,” kata Budi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (28/9/2026).

Budi membeberkan alasan mengapa penggunaan Oseltamivir tidak bisa diberikan sembarang.

“Cuma obat ini ahli juga nyampein, nggak bisa terlalu sembarangan diberikan karena dia bisa ngakibatin resistensi. Nanti kalau ada flu yang parah seperti H5N1 zaman dulu, itu obatnya jadi resisten malah meninggal orangnya,” kata Budi.

Menurut Budi, pemberian Oseltamivir hanya diperuntukkan bagi penderita yang mengalami sakit berat.

“Jadi pemberiannya harus bener-bener hanya diberikan orang-orang yang sakitnya berat atau komorbiditasnya tinggi. Gitu ya. Jadi, obatnya ada, cuma memang itu hanya diberikan di kasus-kasus yang komorbiditasnya tinggi atau parah. Gitu. Nggak semua orang dikasih obat, nanti bisa resisten malah bahaya,” kata Menkes Budi.

Diketahui, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa di minggu ke-38 2026, positivity rate influenza sebesar 56 persen, tetapi kondisi tersebut masih berada dalam rentang medium, yang belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan dengan kepanikan.

Dia menjelaskan, pada surveilans di puskesmas, aktivitas influenza telah berada pada kategori sedang (medium), sementara pada surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah (low).

“Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” ujar Budi.

Menurut data Kemenkes, peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus–September juga masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia.

Pada minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Virus yang dominan adalah Influenza A (H1N1pdm09).

Kemenkes juga memantau perkembangan Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan di masyarakat dengan sebutan “superflu”.

Istilah “superflu” tersebut bukan merupakan nomenklatur resmi yang digunakan oleh WHO maupun CDC untuk menyebut subclade K.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com