Suara.com - Sampah dapur masih menjadi masalah ketika warga sudah memilahnya. Sebab, setelah dipisahkan dari sampah anorganik, tidak semua orang tahu harus diapakan sampah organik tersebut.
Komunitas Kolong Boys di kolong Tol Desari, Depok, mencoba menjawab persoalan itu dengan cara berbeda: barter.
Warga yang mengolah sampah dapurnya menjadi maggot black soldier fly (BSF) bisa menukarkannya dengan bibit lele, ayam, atau telur dari komunitas tersebut.
Firdaus, pengurus komunitas Kolong Boys, mengatakan ide ini muncul dari pengalaman mereka mendampingi warga. Menurutnya, ajakan memilah sampah kerap berhenti karena warga tidak melihat manfaat yang bisa mereka rasakan secara langsung.
"Selama ini warga disuruh milah, tapi ujungnya ya udah... kadang warga juga kesadarannya kalau nggak ada feedback buat warganya, kayaknya dia udah capek kerja, disuruh milah lagi," ujarnya.
Skema barter juga menjawab persoalan lain: apa yang harus dilakukan warga ketika maggot yang mereka pelihara sudah semakin banyak?
"Dia bingung, maksudnya bingungnya kayak, magutnya buat apa nih. Oh iya benar, karena kalau dijual kan jadinya ada hasilnya," kata Firdaus.
Sejauh ini, skema tersebut baru diuji coba bersama empat rumah warga. Sampah organik disetor setiap lima hari, sementara siklus budidaya maggot berlangsung sekitar tujuh hingga delapan hari.
Menurut Firdaus, model tersebut dibuat agar warga mendapat manfaat sekaligus komunitas tetap bisa menjalankan kegiatan tanpa merugi. Harga maggot di pasaran disebut berkisar Rp8 ribu-Rp10 ribu per kilogram, sedangkan seekor lele konsumsi bernilai sekitar Rp4.000-Rp5.000.
Di sisi lain, Kolong Boys menilai program pengolahan sampah organik berbasis maggot di tingkat kelurahan masih membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Firdaus menyebut komunitasnya belum pernah menerima bantuan pemerintah dan selama ini berjalan dengan patungan serta tenaga sukarela enam anggota.
Bagi Firdaus, ketakutan anak muda untuk terjun ke ekonomi sirkular merupakan hal yang wajar. Yang penting, risiko tersebut diperhitungkan dan dicari cara untuk mengantisipasinya.
"Ketakutan buat anak muda wajar sih. Yang penting pertimbangin matang-matang dan ciptain antisipasinya seperti apa," katanya.
Penulis: Inesia Dian