- Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira menyatakan partainya sudah tidak memiliki urusan lagi dengan mantan Presiden Joko Widodo.
- Joko Widodo memamerkan kartu tanda anggota Partai Solidaritas Indonesia dalam acara di Bandung pada Sabtu akhir pekan lalu.
- Pengamat politik menilai langkah tersebut dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia yang berada di bawah ambang batas parlemen.
Suara.com - Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mencibir perilaku eks Presiden RI Jokowi yang dulu dipecat partainya, dan kini memamerkan kartu tanda anggota PSI.
"Tunjukkan juga dong ijazahnya, he-he-he. Iya kan? KTP ditunjukkan, tapi ijazahnya tidak," kata Andreas, dikutip Selasa (29/9/2026).
Andreas menegaskan, PDIP kekinian sudah tak lagi memiliki urusan dengan Jokowi. Bahkan, partainya sudah melupakan sosok yang dua kali diusung partainya menjadi presiden tersebut.
""Sudah tak ada urusan. Kami lupa," tukasnya.
Jokowi Tegaskan Status di PSI
Sabtu akhir pekan lalu, dalam acara Partai Solidaritas Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Jokowi memamerkan KTA miliknya.
Jokowi juga mengatakan sudah menjadi kader partai gajah duduk tersebut sejak 14 Oktober 2025.
"Ini untuk diketahui seluruh jajaran PSI dari pusat sampai paling bawah, bahwa saya sudah masuk jadi keluarga besar PSI," kata Jokowi.
Upaya Dongkrak Elektabilitas
Langkah 'go public' okowi ini dinilai pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, sebagai manuver strategis untuk menyelamatkan PSI.
Mengingat dalam berbagai survei, elektabilitas partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep itu masih berada di bawah ambang batas parlemen.
"Jokowi baru mengaku kader PSI sekarang itu kenapa? Karena hasil survei, PSI masih di bawah tiga persen," kata Adi.
Menurut Adi, situasi itu berbahaya karena bila pemilu dilakukan sekarang, PSI tak akan menang dan menempatkan kadernya di DPR RI.
"Jadi Jokowi perlu mengonfirmasi dirinya adalah PSI, untuk mendongkrak naik elektabilitas partainya," kata dia.