- Wakil Direktur Imparsial Hussein Ahmad mengkritik pembentukan Komcad untuk ASN.
- Kebijakan tersebut dinilai membuang anggaran tanpa analisis ilmiah karena perang modern lebih mengandalkan teknologi, bukan jumlah pasukan.
- Pelatihan dasar militer Komcad menuai sorotan tajam karena telah menyebabkan enam peserta meninggal dunia.
Suara.com - Pembentukan Komponen Cadangan (Komcad) dengan melibatkan aparatur sipil negara (ASN) menuai kritik. Sebab kebijakan tersebut dinilai belum menjawab kebutuhan pertahanan Indonesia di tengah perubahan karakter perang modern yang semakin mengandalkan penguasaan teknologi.
Wakil Direktur Imparsial Hussein Ahmad mempertanyakan dasar kajian pemerintah dalam membentuk Komcad. Menurutnya, kebijakan pertahanan semestinya didasarkan pada analisis ilmiah mengenai ancaman yang dihadapi negara.
"Kok, bisa ada negara tanpa ada analisis ilmiah yang jelas membuang-buang anggaran, belum tentu ini jawaban terhadap ancaman perang, gitu ya, dengan melatih ASN, membentuk Komcad," kata Hussein di Jakarta, Selasa, (29/9/2026).
Ia menilai perang modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh banyaknya jumlah pasukan. Penguasaan teknologi justru menjadi salah satu faktor penting.
"Perang Ukraina-Rusia, penguasaan teknologi itu adalah satu faktor yang determinan, bukan jumlah pasukan," ungkapnya.
Karena itu, Hussein mempertanyakan kebijakan yang justru menambah jumlah personel melalui pembentukan Komcad.
"Karena penguasaan teknologi adalah faktor determinan dalam perang generasi ke lima. Kok, jawabannya malah justru membentuk pasukan yang banyak," katanya.
Kritik lain disampaikan Peneliti Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Khezia Khatwani.
Ia mengingatkan agar perkembangan teknologi militer tidak berujung pada penggunaan perangkat pertahanan untuk menyasar masyarakat sipil.
"Jadi alat-alat yang diprocure rata-rata dipakai untuk menyerang masyarakat sipil. Alat-alat pemantauan salah satunya spyware dipakai untuk target-target memang masyarakat sipil yang rentan," ujar Khezia.
Khezia juga menyoroti kemampuan institusi pertahanan dalam menentukan bentuk ancaman yang perlu dihadapi.
"TNI tidak bisa menentukan ancaman itu apa dan ancaman itu siapa. Itu kekurangan militer Indonesia," tegas Khezia.
Kritik tersebut muncul di tengah pelaksanaan pelatihan dasar militer Komcad yang tercatat telah menimbulkan enam korban jiwa.
Kondisi itu turut memunculkan pertanyaan mengenai dasar kebijakan, penggunaan anggaran, keselamatan peserta, hingga relevansi pembentukan Komcad dengan kebutuhan pertahanan modern.
Reporter: Alif Bintang