Rendi Apriyanto Jadi Tentara Bayaran Rusia Tergiur Gaji Rp600 Juta, Mau Umrohkan Orangtua

Kamis, 01 Oktober 2026 | 10:53 WIB
Rendi Apriyanto tentara bayaran Rusia (Batamnews)
BACA 10 DETIK
  • Pemuda Natuna bernama Rendi Apriyanto tewas saat menjadi tentara bayaran di perang Rusia–Ukraina.

  • Alasan utama Rendi menjadi tentara berbayar adalah demi mendapatkan uang umroh untuk orang tuanya.

  • Rendi sempat menyetor dana pendaftaran umroh orang tuanya sebesar Rp60 juta sebelum dikabarkan gugur.

Suara.com - Rendi Apriyanto, pemuda asal Kabupaten Natuna, gugur di medan perang Rusia–Ukraina setelah nekat mendaftar sebagai tentara bayaran Rusia. Keputusan berisiko tinggi tersebut ia ambil demi mengejar upah ratusan juta rupiah untuk membiayai ibadah umroh kedua orang tuanya.

Hasrat besar memuliakan orang tua membuat pemuda yang mahir merawat mesin kendaraan ini menolak permintaan keluarga untuk membuka bengkel di kampung halaman. Ia memilih terbang ke Filipina sebelum akhirnya menandatangani kontrak militer bersama 7 warga negara Indonesia lainnya di Rusia.

Langkah nekat tersebut membuahkan saldo awal senilai lebih dari Rp600 juta di rekening pribadinya tak lama setelah proses pendaftaran usai. Namun, besarnya imbalan finasial itu berbanding lurus dengan derita fisik serta kerumitan transaksi keuangan dari area pertempuran.

Pemuda asal Natuna Rendi Apriyanto tewas akibat serangan drone Ukraina saat menjadi tentara bayaran Rusia. (Batamnews)

Sinyal seluler yang minim serta lokasi markas yang terisolasi membuat proses pengiriman dana ke Indonesia berjalan sangat lambat. Rendi bahkan harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah hanya untuk meminta bantuan atasan militernya mentransfer uang ke tanah air.

"Itulah pak, meskipun gajinya besar, tapi dari sana payah sekali ngirim uang ke sini. Beberapa kali Rendi kirim, tapi setelah itu rekeningnya terblokir, sementara tempat Rendi susah sinyal dan jauh dari Bank, sehingga kadang kalau mau kirim uang itu terpaksa minta tolong komandanya yang punya mobil dan sering ke perkotaan. Namun Rendi harus memberi uang lebih ke komandanya tersebut hingga 30 juta," ungkap ayah Rendi Apriyanto, Ruskamal, dikutip dari Batamnews.

Niat mulia untuk memberangkatkan orang tua ke tanah suci menjadi dorongan utama di balik keputusan berbahaya sang pemuda. Nilai kontrak jangka pendek yang ditawarkan pihak asing tampak sebagai jalan pintas paling rasional bagi perekonomian keluarganya saat itu.

"Rendi kan anaknya hobi dan pandai otak atik motor, jadi pernah kami minta dia balek saja dan buka bengkel kecil kecilan, tapi jawabnya nanti saja, sekarang fokus untuk memberangkatkan umroh ayah dengan mak dulu," kenang Eniyanti, ibu Rendi, dengan mata berkaca.

Pihak perekrut sempat menghubungi keluarga di Natuna untuk menyelesaikan legalitas berkas sebelum Rendi resmi dikirim ke garis depan. Dari total pendapatan yang berhasil ditransfer, keluarga telah menyetorkan uang pendaftaran umroh sebesar Rp60 juta ke agen travel.

Kiprah Rendi di medan perang sebenarnya telah memasuki periode kontrak kedua usai menyelesaikan masa tugas enam bulan pertama. Dalam percakapan telepon terakhir, ia sempat mengutarakan niat untuk menyudahi karier militernya dan pulang pada April 2027.

Rencana kepulangan tersebut kini tinggal kenangan setelah kabar duka datang mengonfirmasi kematian sang pemuda Natuna di perbatasan. Fenomena ini menyingkap tabir kelam keterlibatan warga negara asing dalam konflik bersenjata global akibat faktor tekanan ekonomi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com