-
Rendi Apriyanto menjadi tentara Rusia demi modal membuka bengkel dan mendaftarkan umrah orang tua.
-
Proses pengiriman uang hasil kerja menghadapi kendala sinyal, blokir rekening, dan potongan komandan.
-
Rendi gugur saat menjalani kontrak kedua sebelum sempat merealisasikan impian pulang ke Indonesia.
Suara.com - Kematian Rendi Apriyanto di medan konflik Rusia–Ukraina menguak motivasi mendalam pemuda asal Kabupaten Natuna tersebut bertaruh nyawa sebagai tentara bayaran Rusia. Niat suci membiayai ibadah umrah kedua orang tuanya serta mengumpulkan modal usaha bengkel motor menjadi dorongan utama ia menerima tawaran berisiko tinggi tersebut.
Langkah nekat Rendi bersama tujuh rekan senegaranya berawal dari iming-iming imbalan finansial dalam jumlah sangat fantastis. Nilai kontrak ratusan juta rupiah dianggap sebagai jalan tercepat untuk mengubah nasib keluarga di kampung halaman.
Ibunda korban, Eniyanti, sempat membujuk anaknya agar urung berangkat dan memilih fokus mengelola usaha perbaikan sepeda motor. Namun, pemuda yang mahir dalam dunia otomotif tersebut memilih menunda impian bengkelnya demi memprioritaskan keberangkatan ibadah sang orang tua terlebih dahulu.
"Rendi kan anaknya hobi dan pandai otak atik motor, jadi pernah kami minta dia balek (pulang) saja dan buka bengkel kecil-kecilan, tapi jawabnya nanti saja. Sekarang fokus untuk memberangkatkan umroh ayah dengan mak dulu," kenang Eniyanti, ibu Rendi, dengan mata berkaca, dikutip dari Batamnews.
Kehidupan di area konflik membuat proses pengiriman dana hasil kerja keras ke Indonesia menghadapi hambatan birokrasi dan aksesibilitas. Kendala jaringan komunikasi serta jarak bank yang jauh memaksa korban memanfaatkan jasa atasan militernya dengan biaya ekstra.
Transaksi keuangan tersebut kerap berujung pada pemblokiran rekening otomatis yang makin menyulitkan aliran dana. Pengorbanan finansial hingga puluhan juta rupiah harus diikhlaskan korban agar uang transferan dapat sampai ke rumah.
"Itulah pak, meskipun gajinya besar, tapi dari sana payah sekali ngirim uang ke sini. Beberapa kali Rendi kirim, tapi setelah itu rekeningnya terblokir, sementara tempat Rendi susah sinyal dan jauh dari Bank, sehingga kadang kalau mau kirim uang itu terpaksa minta tolong komandanya yang punya mobil dan sering ke perkotaan. Namun Rendi harus memberi uang lebih ke komandanya tersebut hingga 30 juta," ungkap Ayah Rendi, Ruskamal.
Kerja keras tersebut sempat membuahkan hasil nyata dengan terdaftarnya orang tua korban pada program ibadah ke Tanah Suci. Setoran pendaftaran bernilai puluhan juta rupiah telah berhasil disetorkan sebelum kabar duka tersebut datang.
Keputusan memperpanjang kontrak masa kerja kedua menjadi pilihan terakhir korban sebelum merencanakan kepulangan permanen. Rendi sempat menyampaikan niatnya untuk menyudahi seluruh aktivitas militer pada paruh pertama tahun depan demi mewujudkan cita-cita utamanya membuka bengkel.
Keterlibatan warga negara asing dalam jaringan militer Rusia umumnya didorong oleh tawaran kompensasi finansial yang sangat tinggi. Fenomena ini memikat banyak pemuda dari negara berkembang yang menginginkan modal usaha cepat atau perbaikan ekonomi keluarga.
Namun, keterbatasan akses perbankan, risiko keamanan tinggi, hingga pemotongan biaya logistik oleh oknum di lapangan menjadi realita kelam yang kerap dialami para pekerja. Kini, kepergian Rendi meninggalkan kepedihan mendalam sekaligus pelajaran berharga mengenai risiko bertaruh nyawa di negeri orang.