KKP Sebut Nilai Jual Ikan di Lampung Selatan Naik 20 Kali Lipat, Ini Penyebabnya

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:50 WIB
Ilustrasi - Ikan hasil tangkapan nelayan. [ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/rwa].
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan nilai jual ikan belo dan selangat di Lampung Selatan meningkat drastis.
  • Program Kampung Nelayan Merah Putih mengolah ikan tangkapan nelayan menjadi produk fillet bernilai jual tinggi.
  • Pengolahan limbah ikan menjadi tepung turut memberdayakan sebelas perempuan pesisir dan menambah pendapatan warga setempat.

Suara.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkap nilai jual ikan belo dan ikan selangat di Desa Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, meningkat hingga sekitar 20 kali lipat. Hal ini terjadi setelah ikan tersebut diolah menjadi produk fillet melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Kedua jenis ikan tersebut awalnya hanya dijual nelayan dengan harga sekitar Rp700-Rp1.000 per kilogram. Kini, setelah masuk proses pengolahan, produk filletnya dapat dijual hingga Rp13.000-Rp14.000 per kilogram.

Kenaikan nilai ekonomi tersebut terjadi karena hasil tangkapan nelayan tidak lagi hanya dijual sebagai ikan mentah, tetapi diproses menjadi produk bernilai tambah.

"Ikan dari nelayan saat ini dihargai Rp2.000/kg oleh offtaker, kemudian menjadi ikan fillet dengan harga jual Rp13.000-14.000/kg. Artinya nilainya mengalami kenaikan signifikan," ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Plt Dirjen PDSPKP), Erwin Dwiyana melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (4/10/2026).

Proses fillet ikan belo (Anodontostoma selangkat) dan ikan selangat (Anodontostoma chacunda) dilakukan di area penanganan cold storage yang berada di lokasi KNMP. Pengolahan ini membuat aktivitas ekonomi dari komoditas perikanan berlanjut hingga ke sektor hilir.

Kegiatan tersebut juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat pesisir. KNMP Ketapang tercatat memberdayakan 11 perempuan yang merupakan istri nelayan sebagai tenaga kerja dalam proses pengolahan ikan.

"Tentu ini kabar menggembirakan bahwa KNMP Ketapang bisa menjadi simpul hilirisasi yang menyerap sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir," katanya.

Tak hanya ikan utuh yang memiliki nilai ekonomi. Bagian yang sebelumnya menjadi limbah, seperti isi perut, tulang, dan kepala ikan, juga diolah menjadi bahan baku tepung ikan.

Direktur Pengolahan Ditjen PDSPKP, Budi Yuwono, mengatakan limbah tersebut memiliki nilai jual sekitar Rp3.000-Rp4.000 per kilogram. Pemanfaatan ini membuat pengolahan ikan di KNMP Ketapang menerapkan konsep zero waste sekaligus menambah sumber pendapatan dari komoditas perikanan.

"Kami sangat mengapresiasi bahwa hilirisasi juga mengubah limbah menjadi emas. Jadi tidak ada satu bagian pun yang terbuang," tutur Budi.

Budi berharap pengembangan KNMP Ketapang dapat menjadi contoh bagi kampung nelayan lain yang memiliki komoditas serupa. Menurutnya, optimalisasi pengolahan hasil tangkapan dapat meningkatkan nilai ekonomi perikanan sekaligus memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat pesisir.

"Kami percaya optimalisasi KNMP mampu mewujudkan kesejahteraan nelayan dan kejayaan maritim Indonesia," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com