El Nino Ancam Ketahanan Pangan Global, Siapkah Indonesia? Ini Kata Ahli IPB

Senin, 05 Oktober 2026 | 15:39 WIB
Petani bekerja di sawah di bawah sinar matahari pagi mengenakan topi kerucut tradisional. (dok.Pexels/Hong Son)

Suara.com - El Nino yang semakin kuat tidak hanya membawa ancaman kekeringan bagi sejumlah wilayah. Fenomena iklim ini juga berpotensi mengganggu musim tanam, menekan produksi pertanian, hingga memengaruhi pasokan dan harga pangan.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dampak El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga 2027. Guru Besar Fakultas Pertanian sekaligus Kepala Biotech Center IPB University, Prof. Dwi Andreas Santosa, menyebut dampak terkuat El Nino terhadap Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada akhir 2026 hingga awal 2027.

Melansir laman IPB University, Kamis (24/9), Andreas mengatakan El Nino saat ini telah memasuki fase sangat kuat. Data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan indeks Nino 3.4 pada 2 September mencapai +2,7 derajat Celsius, menjadi salah satu level tertinggi sejak 1950.

"Saat ini El Nino telah memasuki fase yang mengkhawatirkan, yaitu sangat kuat. Dampak paling kuat untuk Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada akhir 2026 dan awal 2027," ujarnya.

Musim Tanam Ikut Terdampak

Salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah perubahan waktu musim tanam.

Andreas memproyeksikan kondisi El Nino sangat kuat berlangsung hingga Februari 2027. Sementara kondisi kuat hingga moderat dapat berlanjut sampai April 2027.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi datangnya musim hujan. Tahun ini, musim hujan diperkirakan baru terjadi pada November atau Desember dengan curah hujan yang lebih rendah.

Jika musim hujan bergeser, musim tanam pertama juga dapat mengalami perubahan. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memengaruhi produksi padi pada 2027.

Artinya, risiko terhadap ketahanan pangan tidak baru muncul ketika produksi mengalami penurunan. Perubahan kalender tanam dan kondisi cuaca juga perlu diantisipasi agar gangguan produksi tidak berkembang menjadi persoalan pasokan.

Risiko dari Pasar Beras Global

Tekanan terhadap ketahanan pangan juga tidak hanya berasal dari kondisi dalam negeri. Indonesia berada di kawasan Asia Tenggara yang menjadi salah satu pusat produksi dan perdagangan beras dunia.

India, Thailand, Vietnam, dan Myanmar sebagai pemasok beras utama juga sensitif terhadap dampak El Nino. Gangguan produksi di negara-negara tersebut dapat memengaruhi pasokan beras global dan kemudian memberikan tekanan terhadap harga.

Pergerakan harga global pun mulai menunjukkan perubahan. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Rice Price Update 4 September 2026 mencatat indeks harga beras naik 0,6 poin dari 108,4 pada Juli menjadi 109,0 pada Agustus.

Kenaikan terutama terjadi pada beras jenis indika yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, dari 110,8 menjadi 112,2 poin.

Stok Besar Belum Tentu Menahan Harga

Indonesia sebenarnya memiliki modal untuk menghadapi tekanan tersebut. Produksi padi pada 2025 meningkat 13,29 persen dan stok beras pemerintah berada pada level tertinggi.

Namun, stok yang besar tidak otomatis membuat harga beras di tingkat konsumen turun.

Andreas mencatat harga beras medium di pasar tradisional naik dari Rp15.800 per kilogram pada Februari 2026 menjadi Rp16.370 pada Agustus dan Rp16.458 pada September 2026.

Pada Januari-Juli 2026, surplus produksi mencapai sekitar 4,03 juta ton setara beras. Sekitar 3,5 juta ton diserap Bulog sehingga hanya sekitar 0,5 juta ton yang tersisa untuk pasar.

Di sisi lain, harga gabah kering panen terus meningkat hingga Rp7.646 per kilogram pada Agustus.

"Stok jumbo beras pemerintah tidak serta-merta mampu berkontribusi terhadap pengendalian harga di pasar," kata Andreas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal seberapa besar produksi dan stok yang tersedia. Tata kelola stok, distribusi, kelancaran pasokan, kondisi pasar global, serta keterjangkauan harga juga menjadi bagian yang perlu diperkuat.

Andreas mendorong penguatan tata kelola pangan melalui kebijakan berbasis data, perbaikan manajemen stok pemerintah, peningkatan elastisitas pasokan, serta kerja sama pemerintah dan sektor swasta.

Langkah tersebut penting karena dampak El Nino terhadap pangan saling berkaitan, mulai dari perubahan musim tanam dan risiko penurunan produksi hingga gangguan pasokan global dan kenaikan harga.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com