Kuliah Umum di UNP, Gus Ipul Ajak Civitas Akademika Jadi Agen Perlinsos

Rabu, 07 Oktober 2026 | 17:48 WIB
Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan kuliah umum di Ruang Sidang Senat, Gedung Rectorate and Research Center UNP, Padang, Sumatera Barat, Rabu (7/10/2026). (Dok: Kemensos)

Suara.com - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengajak sivitas akademika Universitas Negeri Padang (UNP) ikut mengambil peran dalam perluasan perlindungan sosial (Perlinsos), terutama dengan membantu pemerintah memperbaiki akurasi data dan menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan sosial.

Ajakan itu disampaikan Gus Ipul saat memberikan kuliah umum bertema “Kolaborasi Pemerintah dan Perguruan Tinggi dalam Mempercepat Pengentasan Kemiskinan dan Pembangunan Sosial” di Ruang Sidang Senat, Gedung Rectorate and Research Center UNP, Padang, Sumatera Barat, Rabu (7/10/2026).

Gus Ipul tiba sekitar pukul 09.45 WIB didampingi Rektor UNP Krismadinata, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat Syaifullah, jajaran Staf Khusus Menteri dan Tenaga Ahli Menteri Sosial. Memasuki ruang senat, ia disambut jajaran pimpinan universitas dan perwakilan organisasi kemahasiswaan.

Kuliah umum dimoderatori Dosen Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial UNP Zikri Alhadi. Dalam paparannya, Gus Ipul membahas amanat Pasal 34 UUD 1945. Menurutnya, perlindungan sosial tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi juga mendorong keluarga miskin agar berdaya dan mencegah kemiskinan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Jalan yang paling terpuji dan teruji yaitu pendidikan,” kata Gus Ipul.

Ia menjelaskan pemerintah menjalankan tiga pendekatan dalam menangani kemiskinan, yakni mengurangi beban pengeluaran melalui bantuan dan perlindungan sosial, meningkatkan pendapatan melalui pemberdayaan, serta mencegah transmisi kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

Pendekatan terakhir salah satunya diwujudkan melalui Sekolah Rakyat yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Gus Ipul mengatakan anak-anak yang masuk Sekolah Rakyat datang dengan beragam persoalan, mulai dari putus sekolah, persoalan kesehatan dan psikososial, hingga masalah sosial lainnya. Karena itu, Sekolah Rakyat memadukan pendidikan, rehabilitasi, dan pemberdayaan.

“Sekolah Rakyat ini khusus untuk yang miskin. Maka di sini tidak ada tes akademik. Mahasiswa-mahasiswa UNP ini bersyukurlah, kalian sudah luar biasa diseleksi lewat akademik bisa sampai sini. Di Sekolah Rakyat, pokoknya miskin, memenuhi syarat, masuk,” kata Gus Ipul.

Suasana kuliah umum beberapa kali mencair saat Gus Ipul menyelipkan kelakar dan berinteraksi dengan moderator maupun peserta, termasuk ketika membahas desil dan digitalisasi perlindungan sosial.

Menurut Gus Ipul, berbagai upaya tersebut harus dimulai dari data yang akurat. Pemerintah kini menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai rujukan untuk mempertajam sasaran program sosial.

“Kalau kita ingin tepat sasaran, datanya harus akurat. Itu dulu kata kuncinya. Tidak sekadar data, tapi data yang bisa dibaca, data yang bisa dipahami, dan kemudian menjelaskan dengan baik kondisi objektif dari setiap keluarga dan individu,” kata Gus Ipul.

Data yang akurat juga membantu pemerintah membaca kondisi yang tidak terlihat dari angka secara umum. Salah satunya, penurunan kemiskinan yang ternyata belum merata antara perkotaan dan perdesaan.

“Ini ada kabar baik, ada kabar buruk. Kabar baiknya, kemiskinan turun. Kita selalu bicara kemiskinan turun. Tapi penurunan itu seperti apa? Kita elaborasi. Ternyata penurunannya itu tidak merata antara kota dengan desa,” ujarnya.

Gus Ipul menyebut, dari hampir 500 ribu penduduk yang keluar dari kemiskinan pada periode September 2025 hingga Maret 2026, sekitar 350 ribu berada di wilayah perkotaan sementara di desa hampir tidak bergerak. Jika disederhanakan, dari setiap 10 orang yang keluar dari kemiskinan, sekitar delapan berada di kota dan dua di desa.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com