Suara.com - Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) di bawah Kementerian Hukum Republik Indonesia menggelar Uji Jalur Geographical Indication (GI) Tourism selama tiga hari (21–23/9/2026), di kawasan Pegunungan Dieng yang berada di dua kabupaten, Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. Tiga produk khas Dieng yang diperkenalkan dalam jalur wisata ini adalah buah carica, tanaman herbal purwaceng, serta kopi Arabica khas Dieng.
Ketiga produk tadi adalah komoditas unggulan yang memiliki karakteristik khas dan keterkaitan dengan kondisi alam serta masyarakat di wilayah Dieng. Pelindungan melalui Indikasi Geografis (IG) memberikan dasar hukum untuk menjaga reputasi, karakteristik, serta kualitas produk yang berasal dari wilayah itu.
Melalui pengakuan dan pelindungan IG, DJKI juga mendorong pembinaan serta pengawasan mutu secara berkelanjutan. Upaya standardisasi ini menjadi bagian penting dalam menjaga reputasi produk dari wilayah asalnya, mencegah pemalsuan, meningkatkan nilai ekonomi, sekaligus memperkuat ekosistem GI Tourism.
“Di Dieng ada produk-produk indikasi geografis, yaitu kopi Arabica Pegunungan Dieng, carica, dan purwaceng. Nah, ini yang kita kembangkan, kita manfaatkan sebagaimana bukti nyata bahwa produk indikasi geografis ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat,” papar Fajar Sulaeman Taman, Direktur Merek dan Indikasi Geografis di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum.
Dalam Uji Jalur GI Tourism Dieng, perjalanan wisata dirancang untuk memberikan pengalaman yang tidak berhenti pada aktivitas menikmati pemandangan, hidangan, serta berfoto. Namun peserta diajak memahami hubungan antara alam, manusia, budaya, serta produk khas yang tumbuh dan berkembang di kawasan itu.
Dalam proyek percontohan ini, seluruh produk Indikasi Geografis yang dikunjungi dibudidayakan di ketinggian minimal sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dikelola oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Kelompok ini berperan menjaga, mengelola, dan melindungi reputasi serta kualitas produk khas daerah yang telah mendapatkan atau sedang mengajukan sertifikasi Indikasi Geografis.
Para peserta diajak langsung menuju kebun-kebun budidaya di lereng Dataran Tinggi Dieng, termasuk Desa Sembungan—yang dikenal sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Mereka memetik buah carica dan biji kopi Arabica Dieng, melihat tanaman herbal purwaceng, menyaksikan proses pengolahan produk, serta berinteraksi dengan para pengurus MPIG untuk mendengar langsung tantangan dan harapan dalam melestarikan produk yang telah menjadi ciri khas daerah.
Carica, Konsep Zero Waste: Dari Manisan, Sirup, Hingga Strudel
Pabrik Usaha Dagang (UD) Podang Mas berlokasi di Wonosobo, salah satu gerbang menuju Dataran Tinggi Dieng. Berdiri sejak 1980, perusahaan pengolahan buah carica (Vasconcellea pubescens) ini dirintis oleh Sri Sutarti dan kini dikelola oleh generasi kedua, Rum Wikaningtyas.
“Mungkin di antara para produsen pengolahan carica, kami yang tertua. Mengolah carica menjadi manisan, memakai kemasan botol kaca agar semakin awet. Kami menyadari bahwa produk kami sangat terkait dengan pariwisata. Jadi tidak sebatas menjual produk, namun ingin memperkenalkan bahwa ada sesuatu dari tempat kami di Dieng. Carica mesti diangkat reputasinya, dan kami sangat bersyukur dapat direalisasikan lewat MPIG,” ungkap Rum Wikaningtyas.
Ketua MPIG Carica Dieng, Wekso Pribiantoro, menambahkan bahwa para pengusaha carica terus berkreasi dan berinovasi agar seluruh bagian buah dapat dimanfaatkan dengan konsep zero waste.
Daging buah diolah menjadi manisan, selai, dan minuman probiotik kombucha. Bagian pulpy dimanfaatkan menjadi sirup, sementara bijinya dapat diolah menjadi bubuk pengempuk daging, kopi, dan teh. Adapun kulit buah dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Wekso Pribiantoro sendiri mengolah carica menjadi isian strudel, kudapan berupa kue pastry yang di Eropa umumnya diisi dengan buah apel. Produk tersebut dipasarkan dengan tagline “Carica Strudel, Dieng-Eropa Dalam Satu Rasa”.
“Ingat saat fenomena alam embun upas di Dieng, di mana temperatur turun drastis sampai memunculkan butiran es. Saya baca literasi, ada hidangan khas Eropa bernama strudel, pastry dengan isian buah-buahan,” kenang Wekso Pribiantoro, menceritakan awal mula ide tersebut muncul.
Gagasan itu berawal dari situasi sulit yang dihadapi petani carica ketika pandemi. Saat lockdown, hasil panen tidak terserap karena produsen kesulitan membeli bahan baku. Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian petani frustrasi hingga berkeinginan menebang pohon carica.