"Jadi ada ketimpangan penurunan. Kemiskinan antara kota dan desa. Jadi ini contoh-contoh ya. Bagaimana data ini bisa membuat kita lebih bisa melihat realitas dan kemudian menuntun kita untuk intervensi. Yang mana dulu dan apa dulu? Mana yang perlu perlindungan sosial, mana yang memerlukan pemberdayaan? Ini semua harus terhubung satu dengan yang lainnya,” kata Gus Ipul.
Lantaran itu, Gus Ipul mengajak sivitas akademika UNP ikut membantu pembaruan data dan memperluas akses masyarakat terhadap Perlinsos.
Pemerintah membuka jalur partisipasi masyarakat dalam pemutakhiran data, antara lain melalui aplikasi Cek Bansos untuk menyampaikan usul dan sanggah. Pemerintah juga tengah mengembangkan Perlinsos Digital untuk pendaftaran dan registrasi ulang penerima bantuan sosial.
“Saya undang seluruh dosen, seluruh pimpinan UNP dan mahasiswa, bantu kami untuk memperoleh data yang akurat. Kita buka partisipasi masyarakat. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan jalur pemerintah,” katanya.
Menurut Gus Ipul, perluasan layanan digital masih menghadapi tantangan karena tidak semua masyarakat memiliki kemampuan yang sama dalam mengaksesnya. Ada yang tidak memiliki smartphone, tidak memahami cara mendaftar, hingga belum percaya diri melakukan pendaftaran sendiri.
Karena itu, Gus Ipul mengajak sivitas akademika UNP menjadi Agen Perlinsos dan membantu masyarakat mulai dari lingkungan terdekat.
“Semua bisa jadi Agen Perlinsos. Untuk siapa? Terdekatnya dulu, tetangganya, saudaranya yang dikenal dulu saja, enggak usah yang jauh-jauh. Bantu masukkan data-datanya supaya mereka bisa terekam dalam layanan digital,” kata Gus Ipul.
Ia menegaskan Agen Perlinsos hanya membantu masyarakat mengakses sistem, bukan menentukan kelayakan penerima bansos. Penentuan kelayakan tetap melalui verifikasi dan pemadanan data, sementara masyarakat juga memiliki ruang untuk menyampaikan sanggahan jika hasilnya tidak sesuai dengan kondisi faktual.
Pembenahan data dan perluasan Perlinsos, lanjut Gus Ipul, pada akhirnya harus mendorong perubahan kondisi keluarga. Bansos menjadi penyangga, kemudian dilanjutkan dengan pemberdayaan agar keluarga tidak terus bergantung pada bantuan.
“Setelah diberi bansos, maka mereka harus didorong untuk berdaya, lalu berikutnya menjadi keluarga yang memilih tidak bergantung kepada bansos. Bansos itu sementara, berdaya itu yang selamanya,” katanya.
Dalam kesempatan ini Gus Ipul juga mengapresiasi keterlibatan UNP dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. UNP telah menyediakan fasilitas pembelajaran sekaligus menyiapkan lahan untuk pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Kabupaten Padang Pariaman.
Keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan, tidak hanya melalui pendidikan dan riset, tetapi juga menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini tertinggal.
“Ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh pemerintah, termasuk akademisi, dunia kampus. Mereka yang tersisih, mereka yang papa, mereka yang tidak terbawa dalam proses pembangunan, inilah PR kita bersama. Saya minta bantuan dan sekaligus berharap untuk kolaborasi dengan UNP,” kata Gus Ipul.***