- Presiden AS Donald Trump menyatakan pada hari Sabtu bahwa negaranya mempertimbangkan keterlibatan militer untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman.
- Serangan rudal milisi Houthi menargetkan Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh dan menewaskan total 18 orang dalam sepekan terakhir.
- Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas operasional di bandara utama Riyadh akibat hantaman rudal tersebut.
Di kubu seberang, juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, pada hari Kamis kembali mengulang peringatannya agar seluruh maskapai dan penumpang internasional menghindari wilayah udara Arab Saudi. Sejak Senin, Houthi secara sepihak telah mendeklarasikan wilayah udara tersebut sebagai zona operasi militer terbuka.
Saree juga mewanti-wanti para pekerja untuk menjauhi fasilitas minyak Saudi guna menghindari risiko kehilangan nyawa, mengingat infrastruktur energi turut dikategorikan sebagai target utama milisinya.
Merespons situasi darurat ini, GACA mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas operasional di bandara utama Riyadh pada hari Sabtu untuk keperluan penilaian kerusakan. Data dari situs pelacak penerbangan FlightAware menunjukkan adanya 400 pembatalan penerbangan dari dan menuju KKIA hingga pukul 23.00 waktu setempat.
Kedutaan Besar AS di Riyadh dengan cepat merilis peringatan keamanan, mengimbau seluruh warga negaranya untuk menjauhi area KKIA dan sekitarnya terhitung sejak hari Sabtu.
"U.S. citizens should be aware of potential flight cancellations, airspace closures, and travel disruptions. We recommend checking your flight departure status directly with the airline and with the airport," tulis pihak kedutaan melalui situs resminya.
Gejolak mematikan ini merupakan akumulasi dari ancaman terhadap lalu lintas penerbangan dan pelayaran yang terus memburuk selama berbulan-bulan. Pada Juli lalu, Houthi menuding Saudi telah mengebom Bandara Internasional Sanaa.
Pemerintah Yaman yang didukung Saudi kemudian mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman tersebut dengan dalih mencegah pendaratan pesawat Iran. Situasi kian panas ketika Houthi membalas dengan ancaman akan menjatuhkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi.