Jepang Stop Bantu Padamkan Kebakaran Hutan Kalimantan: Katanya Indonesia Bisa Tangani Sendiri

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:05 WIB
Sejumlah personel TNI bersiaga di sekitar kapal Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) JS Kunisaki yang bersandar di dermaga Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom]
BACA 10 DETIK
  • Jepang resmi mengakhiri misi pemadaman karhutla di Kalimantan pada 29 September 2026.

  • Indonesia menyatakan sanggup melanjutkan pemadaman mandiri setelah operasi pengeboman air Jepang berhasil.

  • Helikopter Chinook Jepang mencatatkan 40 kali penerbangan dan menyiramkan 220 ton air.

Suara.com - Pasukan Bela Diri Jepang menarik diri dari membantu padamkan api kebakaran hutan di Kalimantan. Hal itu karena pemerintah Indonesia mengaku bisa sendiri menangani kebakaran hutan.

Sehingga pemerintah Indonesia secara resmi mengambil alih seluruh penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan mulai 29 September 2026. Keputusan ini menyusul pernyataan bersiap dari otoritas domestik, kendati sejumlah titik api di beberapa area terpantau belum sepenuhnya padam.

Kementerian Pertahanan Jepang menyetujui penarikan tersebut setelah Jakarta memastikan kapasitas tim lokal sudah memadai untuk mengendalikan situasi. Armada udara Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) pun menghentikan water bombing secara total setelah berminggu-minggu beroperasi di garis depan.

Langkah ini menandai babak baru penanganan bencana, di mana kekuatan personel dan peralatan dalam negeri kini menjadi tumpuan utama. Penghentian misi asing ini sekaligus menguji kesiapan mitigasi bencana nasional dalam menghadapi sisa ancaman kebakaran.

Kedatangan armada darurat dari Negeri Sakura berawal dari pendaratan kapal angkut militer JS Kunisaki di perairan Kalimantan Barat pada 10 September 2026. Kapal angkut tersebut memboyong tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook lengkap dengan puluhan personel ahli dan perlengkapan teknis pendukung.

Secara intensif, tiga helikopter Chinook milik SDF mulai menjelajahi langit Kalimantan sejak 16 September 2026 untuk menyiramkan air dari udara. Langkah pengeboman air ini difokuskan pada pemadaman titik api kritis demi menyekat kobaran agar tidak merebak ke kawasan permukiman dan hutan lindung.

Selama kurun waktu kurang dari dua pekan hingga 28 September 2026, helikopter militer tersebut mencatatkan lebih dari 40 penerbangan operasi pemadaman. Total pasokan air yang disiramkan ke lokasi kebakaran mencapai sekitar 220 ton.

Keputusan penghentian bantuan internasional ini dituangkan secara resmi dalam rilis Kementerian Pertahanan Jepang pada 29 September 2026. Keputusan ini diambil murni berpatokan pada laporan perkembangan terkini yang disampaikan oleh Pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia menilai siraman ratusan ton air dari armada SDF telah berhasil menahan laju penyebaran api secara signifikan. Atas capaian tersebut, Indonesia menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus menyatakan kesiapan untuk menuntaskan sisa pemadaman secara mandiri.

"Pemerintah Indonesia kini telah memberitahu Jepang bahwa upaya pemadaman kebakaran oleh Pasukan Bela Diri telah berkontribusi mencegah penyebaran kebakaran hutan, dan bahwa pemerintah Indonesia sekarang dapat menangani situasi tersebut sendiri. Mereka juga menyampaikan pujian dan rasa terima kasih yang tinggi atas dukungan yang diberikan oleh Pasukan Bela Diri hingga saat ini," tulis website Pasukan Bela Diri Jepang.

Pernyataan resmi dari pihak Indonesia menjadi dasar bagi Menteri Pertahanan Jepang untuk memanggil pulang seluruh personel bantuan bencana di Indonesia. Misi internasional tersebut resmi dinyatakan selesai pada hari yang sama sesuai permohonan Jakarta.

Penugasan Pasukan Bela Diri Jepang di Indonesia bermula dari eskalasi kebakaran hutan dan lahan yang sempat memburuk di daratan Kalimantan. Kondisi medan yang sulit dijangkau dari darat membuat bantuan armada udara bertipe berat sangat dibutuhkan untuk menekan sebaran asap.

Kerja sama penanganan bencana ini melibatkan koordinasi taktis intensif antara tim tanggap darurat Indonesia dan militer Jepang di lapangan. Hasil evaluasi bersama akhirnya menyimpulkan bahwa tingkat kerawanan telah menurun, sehingga operasi darurat internasional dapat diakhiri.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com