- Sebanyak 62.400 bayi dan balita terserang ISPA akibat kabut asap karhutla di tujuh provinsi hingga Oktober 2026.
- Kemenkes memobilisasi 2.106 tenaga medis serta mendistribusikan lebih dari 2,8 juta masker ke wilayah terdampak.
- Orang tua diimbau waspada terhadap gejala ISPA dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.
Suara.com - Sebanyak 62.400 bayi dan balita berusia 0–5 tahun terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 12 Oktober 2026. Jumlah ini mencapai 22,5 persen dari total 277.075 kasus ISPA yang tercatat di wilayah tersebut.
Paparan asap karhutla menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak karena mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat memicu gangguan pernapasan. Kementerian Kesehatan mengingatkan orang tua agar mewaspadai gejala seperti napas cepat, sesak napas, hingga kesulitan menyusu atau minum pada bayi dan balita.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, data kasus ISPA terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan penyakit sekaligus memperkuat respons kesehatan di wilayah terdampak.
"Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan," kata Aji di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik.
Hingga 12 Oktober 2026, laporan mencatat mobilisasi 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan serta distribusi lebih dari 2,8 juta masker melalui berbagai sumber pemerintah pusat dan daerah.
Orang Tua Diminta Waspadai Gejala ISPA
Kemenkes mengingatkan orang tua agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan menyusu dan minum. Penggunaan nebulizer harus sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri.
Selain gangguan fisik, kabut asap berkepanjangan juga dapat memicu stres dan kecemasan akibat terganggunya aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan.
Masyarakat dianjurkan menjaga rutinitas anak dan mengupayakan aktivitas di dalam ruangan dengan udara lebih bersih. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, gangguan tidur, serta perubahan pola makan anak.
"Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk," ujarnya.
Masker N95 dan KN95 Dianjurkan Saat Keluar Rumah
Aji mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Jika harus keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus.
Jika respirator tersebut tidak tersedia, masker medis atau masker kain dapat digunakan secara berlapis. Namun, perlindungan bayi dan balita sebaiknya diprioritaskan melalui pengurangan paparan asap, bukan dengan mengandalkan masker.
Kemenkes juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan ruang yang lebih aman dari asap, dilengkapi penyaring udara yang sesuai dan akses pelayanan kesehatan. Fasilitas tersebut terutama diperlukan untuk melindungi bayi, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya.
Sejumlah daerah terdampak telah menyediakan ruang oksigen. Penyediaan fasilitas tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan kebutuhan masyarakat setempat melalui koordinasi dinas kesehatan, BPBD, dan organisasi perangkat daerah terkait.
"Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan kebutuhan masyarakat setempat, melalui koordinasi OPD seperti dinas kesehatan, BPBD, dan perangkat daerah terkait. Bagi warga yang rumahnya sulit terlindung dari asap, akses ke ruang dengan udara lebih bersih menjadi penting," ujarnya.