-
Media internasional menyoroti langit oranye Kalimantan Tengah akibat polusi PM2.5 melebihi angka 3.000.
-
Penaburan es kering seberat 1,5 ton diuji coba usai pembenihan awan gagal mengendalikan karhutla.
-
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan pemadaman api untuk menekan penyebaran asap beracun.
Suara.com - Fenomena langit berwarna oranye pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kini menjadi sorotan utama berbagai media internasional. Lonjakan kadar polutan udara yang terlewat ekstrem memicu perubahan warna atmosfer hingga menarik perhatian dunia.
Media asal Singapura, Channel News Asia, mencatat peristiwa langit oranye kemerah-merahan ini melanda wilayah Kalimantan Tengah pada 14 Oktober. Kondisi visual tak biasa tersebut muncul lantaran konsentrasi partikel berbahaya PM2.5 di udara melampaui angka 3.000.
Ancaman mikroskopis ini sangat mematikan bagi kesehatan masyarakat lokal karena partikel polutan mampu melayang di udara dalam jangka waktu lama. Paparan partikel debu, jelaga, dan asap berukuran di bawah 2,5 mikrometer tersebut berisiko memicu stroke, kanker paru-paru, hingga penyakit paru obstruktif kronis.
Laporan media asal Inggris, BBC menegaskan bahwa beragam operasi pemadaman api di lapangan terus berjalan melalui dukungan armada nasional maupun bantuan luar negeri. Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menerapkan teknik pembenihan awan atau cloud seeding, namun metode penyebaran senyawa kimia udara ini belum sanggup menundukkan kobaran api.
Pemerintah kini beralih menyiapkan skema penyebaran butiran es kering (dry ice) atau karbon dioksida padat untuk memecah pekatnya kabut di atmosfer. Langkah terobosan modifikasi cuaca ini diambil guna menembus dinding asap tebal yang menyelimuti kawasan terdampak.
"Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah menyerukan berbagai instansi untuk meningkatkan upaya memadamkan kebakaran hutan dan mengurangi dampak kabut asap beracun yang mengepul dari titik-titik api," tulis BBC.
Bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan isu tahunan berulang yang dipicu oleh aktivitas pembersihan lahan serta musim kemarau panjang.
Dampak emisi polusi asap dari titik api kerap melintasi batas wilayah hingga mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat di negara-negara tetangga.
Pemerintah terus memacu kerja sama lintas lembaga untuk menekan potensi perluasan titik panas demi mencegah krisis kesehatan publik yang lebih parah. Penanganan teknis darurat terus dikerahkan di titik-titik kritis Kalimantan guna memulihkan kestabilan lingkungan.