Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang, BNPB Coba Cara Baru Pakai Dry Ice

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:36 WIB
Asap karhutla. (Antara)
BACA 10 DETIK
  • BNPB menguji metode modifikasi cuaca menggunakan dry ice untuk mengurai asap kebakaran hutan di Sumatra Selatan pada 15 Oktober 2026.
  • Uji coba penyemaian dry ice di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tersebut berhasil meningkatkan jarak pandang dari 650 menjadi 2.800 meter.
  • Pelaksanaan uji coba yang menggunakan pesawat Cessna Caravan ini dijadwalkan akan terus berlangsung hingga tanggal 18 Oktober 2026 mendatang.

Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji metode modifikasi cuaca menggunakan dry ice untuk mengurai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Uji coba ini mencatat peningkatan jarak pandang atau visibility dari semula 650 meter menjadi 2.800 meter di sekitar lokasi penyemaian.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan penerbangan perdana penyemaian dry ice dilakukan pada Kamis (15/10/2026).

Metode ini difokuskan di sekitar ring satu Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II untuk membantu meningkatkan jarak pandang dan mendukung kelancaran mobilitas penerbangan yang terdampak asap karhutla.

"Pada pelaksanaan awal, dua sorti penerbangan telah dilakukan dengan penyemaian pada ketinggian sekitar 4.500 kaki. Masing-masing sorti membawa bahan semai seberat 800 kilogram," kata Berton di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Operasi tersebut menggunakan satu pesawat Cessna Caravan dengan registrasi PK-SNP yang diberangkatkan dari Bandara Raden Inten II, Lampung.

Berton menjelaskan, penyemaian dry ice dilakukan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap yang terperangkap di atmosfer akibat lapisan inversi.

Dalam kondisi normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Namun, pada lapisan inversi, kondisi tersebut berbalik sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan menghambat pergerakan asap ke lapisan yang lebih tinggi.

Penyemaian dry ice ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer agar asap yang terperangkap dapat bergerak naik dan menyebar. Dengan begitu, konsentrasi asap di suatu wilayah diharapkan berkurang dan jarak pandang meningkat.

Berbeda dengan operasi modifikasi cuaca untuk memicu hujan yang umumnya menggunakan bahan semai natrium klorida (NaCl) berbentuk serbuk halus, metode ini memanfaatkan dry ice berbentuk butiran berukuran sekitar tiga milimeter dengan suhu sangat rendah, sekitar minus 75 derajat Celsius.

Metode tersebut juga tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan.

Meski laporan awal menunjukkan peningkatan jarak pandang di sekitar lokasi penyemaian, BNPB masih akan menguji metode tersebut hingga 18 Oktober 2026.

"Setelahnya akan dilakukan evaluasi dan komunikasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk dikembangkan atau diterapkan di wilayah terdampak karhutla lainnya," kata Berton.

Hasil evaluasi tersebut akan menjadi pertimbangan untuk melihat efektivitas metode penyemaian dry ice dalam membantu mengurangi dampak asap karhutla.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com