- Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mengkritik penanganan karhutla.
- Kebakaran hutan menyebabkan empat orang tewas di TNBTS Jawa Timur dan ratusan ribu kasus ISPA.
- Alex mendesak pemerintah segera membuka data perusahaan dan mengambil tindakan nyata untuk mengatasi karhutla.
Pada Juli, titik api mulai meluas di sejumlah wilayah, termasuk Papua, Sumatra, dan Kalimantan. Puncak krisis terjadi pada Agustus, ketika luas area terbakar melonjak hingga ratusan ribu hektare di sejumlah provinsi, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.
“Karhutla ini memerlukan penanganan dengan bantuan kecanggihan teknologi,” tegasnya.
Alex juga mencatat karhutla telah menyebabkan 324 orang mengalami luka berat dan 23 orang luka ringan. Mayoritas korban berasal dari Kalimantan Tengah.
Dampak kesehatan turut menjadi perhatian. Data Kementerian Kesehatan yang direkapitulasi hingga 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus kumulatif infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota dari tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen di antaranya dialami anak berusia 0–5 tahun.
Selain memicu gangguan kesehatan, asap karhutla juga menyebabkan penurunan kualitas udara, gangguan penerbangan di sejumlah wilayah, serta penutupan sekolah di daerah terdampak, termasuk Papua dan Timor Leste. Puluhan ribu hektare lahan juga dilaporkan terbakar.
"Kami, sebagai wakil rakyat berduka yang sedalam-dalamnya pada semua keluarga korban, baik yang meninggal dunia maupun luka serta terserang ISPA," katanya.
Untuk itu Alex mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan karhutla dan mencegah bertambahnya korban. Ia juga meminta pemerintah tidak ragu meminta bantuan negara lain jika peralatan yang dibutuhkan belum tersedia.
"Kami mendesak Presiden, jangan tunggu korban terus berjatuhan. Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu," pungkasnya.