- Bharada Andika membunuh seniornya, Bharada Valdo, di Markas Ditpoludara Tangerang Selatan.
- Pemeriksaan psikologis terduga pelaku masih berproses dan akan disampaikan oleh dokter ahli psikiatrikum.
- Peristiwa penembakan dan penganiayaan tersebut diduga dipicu oleh masalah pribadi serta tindakan perundungan dari korban.
Suara.com - Polda Metro Jaya masih mendalami kondisi kejiwaan Bharada Andika Rahmadani, anggota Polri yang membunuh seniornya, Bharada Laurentius Valdo Fernandez Lawai di Markas Ditpoludara, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, pemeriksaan untuk mengetahui kondisi psikologis seseorang membutuhkan proses dan tidak bisa disimpulkan hanya dalam satu atau dua hari.
“Terkait tentang kejiwaan, itu butuh proses. Ini masih berproses, makanya kami sampaikan kami butuh waktu karena tidak bisa 1–2 hari untuk mengenali psikologis seseorang,” kata Budi kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).
Budi mengatakan, hasil pemeriksaan kejiwaan Bharada Andika nantinya akan disampaikan oleh dokter ahli psikiatrikum.
“Nanti dokter ahli psikiatrikum yang akan menyampaikan,” ujar Budi.
Tembak Empat Kali
harada Valdo ditemukan meninggal dunia di ruang pemadam kebakaran Markas Ditpoludara, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada Jumat (16/10/2026).
Terduga pelaku, Bharada Andika merupakan junior korban yang sama-sama bertugas di bagian administrasi Ditpoludara. Korban diketahui bertugas sebagai tenaga administrasi pada bagian Pamperslog Ditpoludara.
Berdasarkan laporan awal Kasipropam Korpolairud Baharkam Polri, Bharada Andika mengaku menembakkan senjata api sebanyak empat kali ke arah tubuh Bharada Valdo. Setelah itu, korban diduga mengalami luka di kepala dan leher akibat senjata tajam.
Berdasarkan keterangan sementara, peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan pribadi antara korban dan terduga pelaku. Dalam keterangannya, Bharada Andika mengaku kerap merasa disalahkan dan mengalami perundungan oleh seniornya.