- Analis politik Fadhil Abdurrahim menyatakan skema prasmanan Makan Bergizi Gratis berpotensi meningkatkan efisiensi dan pendidikan karakter.
- Penerapan model prasmanan pada Selasa (20/10/2026) terbukti mengurangi sisa makanan dari 14,2 persen menjadi 3,7 persen.
- Pemerintah harus memastikan kesiapan infrastruktur, sanitasi, dan keamanan pangan agar inovasi tidak membebani sekolah.
Suara.com - Analis Politik Digdaya Indonesia, Fadhil Abdurrahim, menilai skema prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menjadi inovasi dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan program sekaligus memperkuat pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan di sekolah.
Menurut Fadhil, MBG perlu dipandang tidak hanya sebagai program pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga sebagai investasi sosial yang dapat membangun kebiasaan hidup sehat, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan sejak dini.
“Program MBG memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar distribusi makanan. Jika dikelola dengan tepat, ruang makan sekolah dapat menjadi tempat anak-anak belajar berbagi, mengantre, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan,” demikian pandangan Fadhil dalam menanggapi gagasan penerapan skema prasmanan dalam program MBG dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, sistem prasmanan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Pendekatan ini berpotensi mengurangi sisa makanan yang muncul akibat pembagian porsi seragam, sekaligus menekan penggunaan kemasan sekali pakai.
Dalam naskah “MBG Prasmanan: Republik di Balik Piring Seng” karya pengamat kebijakan publik Rais Kaharuddin, disebutkan bahwa sisa makanan berkurang dari rata-rata 14,2 persen pada model kotak menjadi 3,7 persen pada model prasmanan.
Angka tersebut, menurut Fadhil, perlu menjadi bahan evaluasi lebih lanjut untuk mengukur efektivitas metode penyajian MBG.
“Efisiensi program pemerintah tidak cukup dihitung dari besarnya anggaran yang terserap atau jumlah porsi yang dibagikan. Kita juga perlu mengukur berapa banyak makanan yang benar-benar dikonsumsi, berapa banyak limbah yang dihasilkan, dan seberapa baik kualitas layanan yang diterima siswa,” ujarnya.
Fadhil juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, atas upaya mendorong penguatan kualitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Menurutnya, penyempurnaan tata kelola MBG melalui inovasi pelayanan yang efisien, aman, dan berorientasi pada kebutuhan penerima manfaat merupakan langkah penting untuk memastikan program strategis pemerintah memberikan dampak yang lebih luas.
“Apresiasi perlu diberikan kepada pimpinan BGN yang terus mendorong penyempurnaan pelaksanaan MBG. Tantangannya bukan hanya memastikan makanan sampai kepada penerima manfaat, tetapi juga membangun sistem yang efisien, aman, berkualitas, dan mampu mendukung pendidikan karakter. Dengan evaluasi yang terbuka serta inovasi berbasis data, MBG dapat berkembang menjadi program yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia,” beber Fadhil.
Ia menambahkan, keberhasilan MBG membutuhkan komitmen berkelanjutan dari pemerintah, terutama dalam memastikan setiap inovasi pelaksanaan program didukung standar operasional yang jelas, pengawasan yang konsisten, serta evaluasi yang terukur.
Dengan demikian, upaya penyempurnaan program dapat terus dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Fadhil menilai, skema prasmanan juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dengan praktik keseharian di sekolah.
Pembagian tugas secara bergiliran, misalnya, dapat melatih siswa bekerja sama, melayani teman, serta bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan.