- BNPB melaporkan lebih dari 572 hektare lahan di luar enam provinsi prioritas mengalami kebakaran pada Oktober 2026.
- Petugas pemadam kebakaran di Karanganyar mengalami kesulitan memadamkan api akibat tiupan angin kencang yang tidak menentu.
- Kalimantan Tengah mencatat wilayah dengan sisa lahan terbakar terbesar di kelompok provinsi prioritas seluas 389 hektare.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya melanda enam provinsi prioritas di Kalimantan dan Sumatera. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 572 hektare lahan terbakar di sejumlah wilayah lain, mulai dari Pulau Jawa hingga Papua.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penanganan karhutla tidak hanya berlangsung di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau, tetapi juga di sejumlah daerah lain.
“Secara keseluruhan dari provinsi-provinsi lain di luar enam provinsi prioritas, ada sekitar 572 hektare lebih yang terbakar dan yang telah dipadamkan sebesar 107 hektare lebih dan yang masih belum dipadamkan ada sebesar 465 hektare,” kata Berton dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/10/2026).
Sejumlah wilayah dilaporkan masih mengalami kebakaran, antara lain Maluku Utara dengan sekitar 179 hektare lahan terbakar. Di Kalimantan Timur dan wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), BNPB menerima laporan kebakaran yang mencakup lebih dari 97 hektare.
Sementara itu, sekitar 230 hektare lahan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dilaporkan masih terbakar. Berton mengatakan upaya pemadaman di wilayah tersebut terkendala angin kencang dengan arah yang tidak menentu.
“Angin yang besar dan kencang dan tidak menentu membuat kami kesulitan untuk memadamkan api tersebut,” ujarnya.
BNPB juga menerima laporan kebakaran di sejumlah lokasi lain. Di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, luasan lahan yang belum berhasil dipadamkan disebut telah menyusut menjadi sekitar lima hektare, setelah sebelumnya mencapai ratusan hektare.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di tempat pemrosesan akhir (TPA) Sumampir di Kota Bandung, dengan sekitar tiga hektare lahan belum padam. Sementara itu, sekitar tiga hektare lahan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, dilaporkan terbakar.
Berton mengatakan penanganan kebakaran di Maluku Utara menjadi salah satu perhatian BNPB. Upaya pemadaman di wilayah tersebut akan diprioritaskan bersama pemerintah daerah, TNI, dan Polri.
Ia juga menyebut kebakaran terjadi di sejumlah lokasi lain, termasuk Taman Nasional Way Kambas dan TPA Pasir Panjang di Garut. Namun, paparan tersebut tidak merinci luas lahan yang terbakar maupun perkembangan pemadaman di kedua lokasi itu.
Kalimantan Tengah Masih Hadapi Kendala Pemadaman
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah masih menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kesenjangan besar antara luas lahan terbakar dan luas lahan yang berhasil dipadamkan.
Berton menjelaskan, selama periode 13–19 Oktober 2026, luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah masih tinggi, sedangkan luas lahan yang berhasil dipadamkan relatif lebih rendah.
"Kita melihat bahwa di Kalimantan Tengah jumlah lahan yang terbakar itu sangat tinggi dan diikuti dengan jumlah yang dipadamkan itu relatif lebih rendah," ucapnya.
Kondisi berbeda terjadi di Sumatera Selatan, yang menurutnya mencatat luas pemadaman relatif lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah.
Adapun di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi, perkembangan luas kebakaran dan pemadaman dinilai relatif lebih seimbang.
Berton menyebut Kalimantan Tengah menyumbang luas lahan yang belum padam terbesar di kelompok provinsi prioritas, yakni 389 hektare, disusul Sumatera Selatan sebanyak 108 hektare. Kedua wilayah tersebut juga disebut sebagai sumber asap saat ini.
Sebelumnya, BNPB mencatat target pemadaman karhutla di enam provinsi prioritas mencapai 1.024 hektare. Dari jumlah tersebut, 454 hektare telah dipadamkan, sementara 570 hektare masih belum padam.