Golkar Ambisi Kuasai Kursi DPR daripada Presiden-Wapres, Bahlil: Itu Doktrinnya Adindaku Sayang!

Rabu, 21 Oktober 2026 | 08:36 WIB
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. [Suara.com / Novian]
BACA 10 DETIK
  • Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan partainya bertujuan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
  • Bahlil menegaskan Partai Golkar didirikan bukan semata-mata untuk mengantarkan ketua umumnya menjadi presiden atau wakil presiden.
  • Peningkatan perolehan kursi di DPR tetap menjadi target politik utama bagi seluruh kader Golkar.

Suara.com - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan partainya tidak didirikan semata-mata untuk mengantarkan ketua umum menjadi presiden atau wakil presiden. Ia mengklaim Golkar memiliki tujuan lebih besar, yakni menjadi instrumen politik negara untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat ditanya awak media mengenai peluang dirinya mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.

Bahlil menyinggung rekam jejak sejarah Golkar sejak didirikan pada 1964. Ia menyebut belum pernah ada ketua umum Golkar yang menjabat sebagai presiden.

"Dan satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang jadi ketua umum dulu baru jadi wapres adalah Pak Soedharmono," kata Bahlil di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (20/10/2026) malam.

Menurut Bahlil, orientasi Golkar tidak seharusnya berhenti pada ambisi politik untuk menempatkan kader di kursi kepresidenan. Ia menekankan partai harus berperan dalam mewujudkan cita-cita negara, mulai dari keadilan sosial hingga kesejahteraan dan pendidikan.

"Partai Golkar itu lahir bukan hanya semata-mata untuk menjadikan ketua umum jadi presiden sama wapres. Tapi Partai Golkar ini lahir untuk menjadi instrumen politik negara dalam mewujudkan cita-cita negara, untuk apa? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kesejahteraan, pendidikan, dan macam-macam. Itu maksud saya," ujarnya.

Rapat Paripurna DPR RI ke-7 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Suara.com/Bagaskara)

Meski demikian, Bahlil menegaskan peningkatan perolehan kursi di DPR tetap menjadi target politik Golkar. Ia menyebut hal tersebut sebagai doktrin yang terus dipegang kader partai.

"Apa tujuannya Partai Golkar? Ya naikkan kursi. Itu doktrinnya Adindaku sayang," tuturnya.

Bahlil juga menyinggung perubahan posisi Golkar setelah Reformasi 1999.

Meski awalnya didirikan sebagai golongan penyeimbang, Golkar kemudian bertransformasi menjadi partai politik. Namun, menurut dia, perubahan tersebut tidak menggeser orientasi dasar partai pada kesejahteraan.

"Nah jadi jelas ya, Partai Golkar partai yang sejak sebelum kami lahir, didirikan untuk menjadi golongan penyeimbang dari partai politik sebenarnya dulunya. Tapi pemilu 99 reformasi harus menjadi partai politik, tapi doktrinnya, tujuannya enggak berubah, menjadi politik kesejahteraan," tegas Bahlil.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com