- BNPB mengubah SOP penyemaian dry ice karena butiran es mengenai rumah warga.
- BNPB memasang saringan pada pesawat untuk memperkecil ukuran dry ice agar cepat menguap di udara.
- Uji coba penyemaian dry ice bertujuan mengurai asap karhutla yang terjebak akibat lapisan inversi atmosfer.
Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengubah prosedur operasi standar (SOP) penyemaian dry ice untuk mengatasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), setelah menerima laporan material tersebut jatuh hingga mengenai rumah warga.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan laporan masyarakat menyebut butiran dry ice yang disebarkan dari pesawat tidak seluruhnya menguap sebelum mencapai daratan.
"Ada kejadian di mana es atau dry ice ini tiba sampai di daratan, bahkan mengenai rumah masyarakat. Nah, untuk itu kami sudah membuat SOP baru di mana penggunaan dry ice ini masih uji coba," kata Berton dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/10/2026).
Sebagai tindak lanjut, BNPB memasang saringan pada corong penabur di pesawat.
Modifikasi ini dilakukan untuk memperkecil ukuran butiran dry ice yang dilepaskan selama operasi sehingga lebih cepat berubah menjadi gas sebelum mencapai tanah atau bangunan.
"Dapat dikatakan bisa berukuran sebesar bulir beras sehingga jatuh tidak akan mencapai tanah ataupun bangunan-bangunan di sekitarnya," imbuhnya.
Pengecilan ukuran butiran tersebut ditujukan untuk mempercepat proses sublimasi, yakni perubahan zat padat langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair. Dengan begitu, dry ice diharapkan habis menyublim sebelum mencapai permukaan tanah atau permukiman di sekitar wilayah penyemaian.
Uji Coba untuk Mengurai Asap Karhutla
Sebelumnya, BNPB menguji penggunaan dry ice untuk membantu mengurangi konsentrasi asap karhutla di Sumatra Selatan. Metode ini menyasar asap yang terperangkap di atmosfer akibat lapisan inversi, yaitu kondisi ketika lapisan udara menghambat pergerakan asap ke atas.
Berbeda dengan penyemaian untuk memicu hujan yang menggunakan bahan seperti natrium klorida (NaCl), metode dry ice ditujukan untuk membantu mengurai asap tanpa bergantung pada ketersediaan awan hujan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, sebelumnya menjelaskan penyemaian dry ice menjadi salah satu langkah taktis untuk mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat penyebaran asap.
Dalam kondisi tertentu, asap karhutla yang sangat pekat dapat terjebak di lapisan atmosfer dekat permukaan hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki, bahkan lebih tinggi.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto, menjelaskan lapisan inversi bekerja seperti tutup yang menghambat pergerakan udara secara vertikal. Untuk mengatasinya, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menyemai dry ice secara akurat dari pesawat di atas lapisan tersebut.
Proses sublimasi dry ice memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak sehingga diharapkan membantu membuka kembali aliran konveksi.
“Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC,” jelas Seto.
Penggunaan dry ice ini berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan.
BMKG secara khusus menargetkan lapisan inversi yang menahan asap serta mengintervensi lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas.
Metode tersebut menjadi alternatif taktis ketika kondisi langit cenderung kering dan jumlah awan potensial untuk disemai terbatas.