Dua Reaktor Nuklir Terapung Bakal Dibangun di Maluku Utara, Malaysia Ketar-ketir

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:26 WIB
Reaktor nuklir Triga 2000 Bandung. (BRIN)
BACA 10 DETIK
  • Indonesia dan Rosatom asal Rusia menandatangani kesepakatan pembangunan dua PLTN terapung di Maluku Utara pada 16 Oktober 2026.
  • Proyek berkapasitas 200 megawatt tersebut ditargetkan mulai menghasilkan listrik untuk Pulau Halmahera dalam lima tahun mendatang.
  • Rencana pembangunan PLTN terapung Indonesia di Maluku Utara ini turut menjadi sorotan dan perhatian dari negara Malaysia.

Suara.com - Indonesia bersiap memasuki babak baru pengembangan energi nuklir melalui rencana pembangunan dua pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung di Maluku Utara.

Proyek yang melibatkan perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom State Corporation, itu ditargetkan mulai menghasilkan listrik dalam lima tahun mendatang.

Rencana tersebut menjadi sorotan Malaysia karena lokasi pembangkit diperkirakan berjarak sekitar 3.000 kilometer dari Kuala Lumpur dan 1.400 kilometer dari Kota Kinabalu, Sabah.

Dikutip dari media Malaysia, The Star, kesepakatan kerja sama proyek tersebut ditandatangani oleh Rosatom dan perusahaan milik negara Indonesia, PT Pembangkit Listrik Nuklir.

Suasana pembangunan kembali reaktor nuklir air berat di Kota Arak, Iran, Senin (23/12/2019). ANTARA FOTO/West Asian News Agency via REUTERS/wsj

Penandatanganan berlangsung di sela-sela Russian Energy Week di Moskow pada 16 Oktober 2026.

Dalam pernyataannya, Rosatom menyebut proyek ini sebagai tonggak penting kerja sama energi Rusia dan Indonesia.

Dua Reaktor Nuklir Terapung Berkapasitas 200 MW

Rosatom berencana memasang dua unit pembangkit listrik terapung FPU-100 dengan total kapasitas mencapai 200 megawatt (MW).

Pembangkit tersebut akan memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Kedua unit itu akan menggunakan sistem reaktor seri RITM yang dikembangkan Rusia.

Menurut Rosatom, teknologi tersebut telah digunakan pada kapal pemecah es bertenaga nuklir dan memiliki rekam jejak operasional yang menjadi dasar klaim keandalan serta keselamatannya.

"Unit-unit tersebut akan menyediakan listrik rendah karbon yang andal menggunakan sistem reaktor seri RITM," demikian pernyataan Rosatom.

Malaysia Kembali Pertimbangkan Energi Nuklir

Di sisi lain, Malaysia juga kembali menjajaki pemanfaatan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Negara tersebut memulai kembali Fase 1 pendekatan Milestones dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) guna menilai kelayakan penambahan pembangkit nuklir ke jaringan listriknya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com