WNI di Eropa Dimbau Menjauhi Kerusuhan Protes Pendidikan demi Keselamatan Diri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 13:57 WIB
Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir. (Suara.com/Novian)
BACA 10 DETIK
  • Kemenlu RI melarang keras WNI di Eropa terlibat aksi politik maupun demonstrasi lokal.

  • Gelombang protes dipicu penurunan kualitas pendidikan dan lonjakan biaya hidup di Prancis.

  • Kerusuhan anarkis kini meluas hingga ke Belgia dan mengakibatkan ribuan orang ditangkap.

Suara.com - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mendesak seluruh WNI di Eropa untuk bersikap netral dan menjauhi area unjuk rasa yang kini berujung riuh. Imbauan tegas ini dikeluarkan menyusul eskalasi demonstrasi besar di sejumlah negara yang diwarnai perusakan fasilitas publik.

Langkah preventif ini diambil pemerintah demi memastikan keselamatan jiwa para pelajar maupun pekerja migran Indonesia yang bermukim di sana. Seluruh kantor perwakilan diplomatik RI di kawasan Eropa kini bersiaga penuh memantau pergerakan situasi terkini.

“Bagi warga negara Indonesia yang ada di Eropa, kami meminta mereka untuk berhati-hati, menjaga diri, dan tidak ikut campur dengan urusan politik yang berkembang di sana,” kata Menlu RI Arrmanatha Nasir ditemui usai pertemuan bilateral dengan Menlu Australia Penny Wong di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Jakarta, Kamis.

Massa demonstran membakar gedung kantor pemerintah di Prancis selama demo anarkis akhir pekan. Massa juga menjarah toko-toko mewah. (Foto/EU Today)

Diplomat Indonesia meminta diaspora fokus menjalankan misi kewajiban akademik maupun profesional secara tenang. Mereka diminta tidak membuang energi untuk masuk dalam lingkaran konflik domestik negara setempat.

Otoritas Indonesia mewajibkan WNI selalu siaga memeriksa panduan keamanan berkala dari saluran resmi kedutaan besar. Kepatuhan terhadap aturan hukum dan instruksi aparat keamanan lokal menjadi kunci utama keselamatan warga.

Gejolak sosial ini meletus pertama kali di Prancis akibat akumulasi kekecewaan para pelajar atas merosotnya mutu pendidikan dan pembengkakan biaya hidup. Gelombang amarah publik dengan cepat berubah menjadi aksi pembakaran dan perusakan aset negara di berbagai wilayah.

Aksi anarkis massa bahkan melahap habis bangunan bersejarah balai kota Limoges serta merusak pusat pemerintahan Marseille pada Sabtu (17/10). Aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan ribuan perusuh di tengah kepulan asap yang melingkupi kota.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengonfirmasi bahwa kepolisian telah menangkap lebih dari 2.500 orang sejak akhir pekan lalu. Estimasi resmi mencatat sekitar 550.000 demonstran turun ke jalan, dengan 110.000 di antaranya memadati jalanan Paris.

Eskalasi perlawanan warga Prancis ini merambat cepat menyeberangi perbatasan menuju wilayah selatan Belgia yang dihuni komunitas penutur bahasa Prancis. Penolakan terhadap pemangkasan anggaran serta reformasi pendidikan memicu aksi serupa di wilayah tetangga tersebut.

Kepolisian Belgia melaporkan penangkapan 195 demonstran saat kerusuhan pecah di kota Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10). Para perusuh diproses hukum atas tindakan penyerangan petugas, pembakaran sengaja, dan perlawanan fisik saat diamankan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com