Curhat Warga Malaysia Tersiksa Dikirim Asap Kebakaran Hutan Indonesia: Kami Tidak Bisa Bernapas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:25 WIB
Krisis asap karhutla Indonesia memicu penderitaan fisik dan lonjakan beban finansial warga Malaysia. (BBC)
BACA 10 DETIK
  • Bencana asap karhutla Indonesia memicu lonjakan kasus ISPA dan merugikan ekonomi Malaysia puluhan miliar.

  • Kualitas udara yang buruk memaksa warga Malaysia merogoh kocek jutaan rupiah untuk biaya medis.

  • Anggota parlemen Malaysia mendesak aksi diplomatik tegas ASEAN kepada Indonesia untuk menghentikan krisis ini.

Total dana yang melayang dari kantong pribadi Amira mencapai RM1.000 (Rp4,4 juta) untuk penyediaan nebuliser, air purifier, hingga konsumsi obat pengencer dahak bromheksin. Beban serupa dialami Normazura di kawasan Shah Alam yang berjarak 30 kilometer dari Kuala Lumpur.

Proses peradangan kulit lansia ini memburuk drastis akibat zat iritan partikulat asap yang pekat. Hal itu memaksanya melakukan prosedur pembersihan diri secara ekstra ketat setiap kali terlanjur terpapar udara luar.

"Gejala saya membuat saya tidak bisa keluar rumah. Kalau keluar, saya berkeringat berlebihan dan merasa tidak nyaman," katanya pada jurnalis Nur Yasmin yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Setiap kali keluar rumah, saya harus sering membersihkan diri agar gejalanya tidak semakin parah."

Normazura kini harus mengorbankan momen kebersamaan dengan hewan peliharaan serta rutinitas jalan cepatnya. Pembelian krim pelembap khusus dan masker medis menguras tabungannya sekitar RM200 (Rp880 ribu) hingga RM300 (Rp1,32 juta) per bulan.

"Saya harus membeli krim secara rutin untuk seluruh tubuh karena kulit saya menjadi kering. Saya juga harus membeli masker setiap kali keluar rumah, terutama ketika pergi ke rumah sakit," katanya.

Krisis kabut asap lintas batas (transboundary haze) merupakan isu lingkungan regional tahunan yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan skala besar di Indonesia, khususnya di pulau Sumatra dan Kalimantan. Praktek pembukaan lahan dengan cara membakar (slash-and-burn) serta pengeringan lahan gambut menjadi faktor utama pemantik titik api yang merambat cepat saat musim kemarau.

Tiupan angin muson membawa jelaga dan partikulat berbahaya PM2.5 melintasi Selat Malaka, memicu ketegangan hubungan diplomatik serta krisis kesehatan publik di kawasan Asia Tenggara.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com