- Pada 28 Oktober 2026, ratusan mahasiswa UI menggunakan puluhan angkot menuju Bundaran HI untuk berdemonstrasi.
- Angkot T19 yang disewa khusus berhasil menembus barikade polisi dan viral karena menggunakan jalur alternatif Kuningan serta Menteng.
- Peristiwa tersebut menunjukkan keberhasilan transportasi rakyat dalam memobilisasi massa aksi secara efektif di tengah pengawasan ketat.
Keberhasilan angkot T19 membawa mahasiswa bukan hanya soal teknis rute dan tarif. Sopir-sopir yang terlibat menunjukkan kemampuan navigasi yang tinggi di tengah padatnya lalu lintas Jakarta dan keberadaan aparat di berbagai titik.
Keterampilan mengemudi yang sehari-hari diasah di jalanan padat ternyata bermanfaat saat dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Banyak netizen memberikan apresiasi kepada “abang-abang angkot” yang dianggap berani dan gesit.
Selain T19, armada lain yang digunakan meliputi angkot D37 (Kampung Rambutan–Cibinong/Cisalak), D05, M06, serta berbagai minibus. Total diperkirakan puluhan hingga hampir 80 angkot dan belasan minibus dikerahkan dari UI.
Massa yang berangkat dari kampus diperkirakan 800–1.000 orang, sementara total peserta aksi di Bundaran HI jauh lebih besar. Penggunaan angkot menjadi pilihan praktis setelah beberapa rencana penggunaan bus mengalami kendala di kesempatan sebelumnya.
Peristiwa 28 Oktober 2026 memperlihatkan bagaimana moda transportasi konvensional seperti angkot T19 tetap relevan dan bahkan strategis dalam konteks mobilisasi.
Rute yang familiar bagi mahasiswa Depok–Jakarta Selatan, tarif sewa yang relatif terjangkau untuk kelompok, serta kemampuan sopir menavigasi jalur alternatif menjadi kombinasi yang sukses membawa massa ke Bundaran HI.
Meski perjalanan tidak sepenuhnya mulus karena adanya barikade, kehadiran angkot T19 dan armada sejenis memungkinkan sebagian besar peserta sampai di lokasi aksi. Kisah ini menjadi catatan menarik tentang sinergi antara mahasiswa dan pengemudi angkutan kota dalam suatu momentum peringatan Sumpah Pemuda.