Pengekspor Pakaian Terbesar, Gaji Buruh Garmen di Negara Ini Tak Cukup untuk Sekali Makan Sehari

Minggu, 08 November 2026 | 11:05 WIB
ILUSTRASI buruh garmen (Freepik.com)
BACA 10 DETIK
  • Ribuan buruh garmen Bangladesh menggelar aksi mogok kerja menuntut kenaikan upah minimum nasional.
  • Lonjakan inflasi yang tinggi membuat penghasilan buruh tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok harian.
  • Produsen mendesak merek internasional ikut menyesuaikan harga beli demi kesejahteraan buruh manufaktur.

"Satu pihak yang bisa mengubah situasi ini dalam sekejap justru memegang peran paling ekstraktif dan eksploitatif: merek pembeli dari Barat yang memegang porsi nilai terbesar dari pakaian yang dihasilkan para pekerja ini," kata Taqbir Huda.

"Sejarah memberikan sangat sedikit alasan bagi pekerja untuk percaya bahwa sesuatu akan membaik kecuali mereka berprotes," kata Huda.

Sektor industri garmen siap pakai merupakan tulang punggung perekonomian Bangladesh yang menyumbang lebih dari 80 persen dari total pendapatan ekspor negara tersebut. Negara ini menjadi produsen dan eksportir pakaian terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok yang memasok berbagai merek ritel internasional ternama.

Meski menjadi penyokong utama ekonomi nasional, standar upah minimum buruh tekstil di Bangladesh masih menjadi salah satu yang terendah di kawasan Asia. Penyesuaian gaji terakhir yang dilakukan pada akhir 2023 tidak lagi mampu mengimbangi laju inflasi tahunan yang terus menggerus daya beli masyarakat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com