Sebulan menjelang Lebaran biasanya menjadi waktu yang dinanti para pabrikan kendaraan bermotor karena 'nafsu' masyarakat Indonesia untuk membeli mobil atau motor sedang besar-besarnya. Namun, keinginan melego mobil sebelum Lebaran berangsur memudar dengan semakin menjamurnya usaha penyewaan kendaraan.
"Sekarang (tiap menjelang Lebaran) sudah tak ada loncatan (penjualan) tinggi. Paling-paling 5%, paling tinggi 10% (dibanding bulan sebelumnya)," sebut Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor Jonfis Fandy beberapa waktu lalu di Bogor, Jawa Barat.
Penyebab perubahan tabiat konsumen tersebut, sambung Jonfis, adalah keberadaan rental mobil yang semakin banyak. Menurutnya, pergeseran pola konsumsi ini sudah dimulai sejak cukup lama, kira-kira 10 tahun lalu.
"Orang-orang sekarang juga tidak menunggu-nunggu lagi momen tertentu untuk membeli mobil. Kalau dulu mereka menunggu salah satunya karena pilihan masih belum banyak," tandas Jonfis lagi.
Berdasarkan catatan Suara.com, tiga tahun belakangan ini pertumbuhan transaksi jual-beli menjelang Lebaran memang tak pernah lebih dari 7%.
Pada 2013, kala hari raya Idul Fitri jatuh pada awal Agustus, aktivitas komersial di pasar mobil nasional sepanjang Juli 'cuma' naik 7,59% menjadi 112.178 unit.
Mendekati perayaan Idul Fitri 2014 yang jatuh pada 28-29 Juli, penjualan malah turun 17,43%, dari 110.614 unit pada Juni menjadi 91.334 unit sebulan setelahnya. Menurut para eksekutif pabrikan roda empat, buruknya penjualan pada Lebaran 2014 disebabkan oleh Pemilihan Umum serta tahun ajaran baru sekolah yang terjadi berbarengan.
Setahun lalu, saat Lebaran terjadi pada 17-18 Juli, penjualan pada Juni pun hanya tumbuh 3,52% menjadi 82.172 unit.
Jonfis mengatakan, kalau momen Lebaran terjadi di penghujung bulan, capaian penjualan para agen tunggal pemegang merek di dua bulan perayaan Lebaran plus bulan setelahnya kemungkinan besar juga tidak maksimal.
"Itu karena pada saat Lebaran perkantoran libur dua minggu. Sepuluh hari sebelum Lebaran dan sepuluh hari setelah Lebaran kami pun sudah tidak bisa mendistribusikan kendaraan karena truk pengiriman masih dilarang beredar," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Tampang Sangar ala Africa Twin, tapi Wujud Matic: Intip Pesona Motor Honda Bergenre Adventure
-
Bocor Sebelum Waktunya, Inikah Penampakan 'Fortuner Baru' Berdesain Agresif SUV Masa Depan Toyota?
-
Sanksi Pajak Menanti Pabrikan Mobil Listrik BYD Dampak Pabrik Tak Kunjung Dibangun
-
Punya Bobot Ekstra? Ini 5 Pilihan Skutik Paling Nyaman Biar Tenaga Nggak Ngempos di Tanjakan
-
Ramadhipa Cetak Sejarah Jadi Pebalap Indonesia Pertama Menang di Dua Ajang Dunia
-
Intip Fakta dan Spesifikasi 'EV' Roda Tiga Racikan Pindad
-
Mengamuk di Jepang! Pembuktian Buasnya Mesin CBR Series Bawa AHRT Borong Podium ARRC Motegi
-
Diam-diam Pasar Mobil PHEV Meledak di 2026, Naik Nyaris 400 Persen
-
Motor Listrik Pintar OMO-X Resmi Mengaspal di Indonesia Simak Keunggulan dan Harganya
-
Garansi Motor Yamaha Langsung Gugur saat Modifikasi Dua Bagian Ini