Sejumlah pengemudi Gojek atau GET di Thailand. Sebagai ilustrasi Gojek telah go regional [Facebook/getthailandofficial].

Suara.com - Bagaimana keseharian wahana angkut yang mengantar Anda dari satu lokasi ke lokasi lainnya? Apakah melibatkan layanan ojek dengan sistem aplikasi daring atau dikenal sebagai ojek online alias ojol?

Bila ya, ada sangkut-pautnya antara layanan servis point-to-point ini dengan bukti keikutsertaan mengawal uang atau modal tidak "lari" dari Indonesia.

Berdasarkan laporan App Annie yang berjudul "The State of Mobile 2019", Gojek menjadi aplikasi on-demand di Indonesia dengan monthly active users terbanyak.

Bahkan, pengguna aktif aplikasi Gojek secara mingguan (weekly active users) jumlahnya 1,5 kali lipat lebih banyak dibandingkan kompetitornya di Indonesia. Keberhasilan ini berbanding lurus dengan pertumbuhan gross transaction value (GTV) Gojek yang berhasil menembus lebih dari 9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per akhir 2018 dengan total volume transaksi setahun mencapai 2 miliar dolar AS.

Sementara dari Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) 2018, layanan Go Food, bagian dari Gojek, menyumbang Rp 18 triliun untuk  perekonomian Indonesia pada 2018, sehingga tercatat sebagai layanan bisnis berbasis digital terbesar di Asia Tenggara dan terbesar nomor tiga di dunia

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mencontohkan bahwa Gojek ini mendapatkan suntikan dana dari luar sehingga mampu menaikkan level menjadi Decacorn.

"Dari unicorn menjadi decacorn, Gojek menjadi model di Indonesia dan menjadi model di kalangan internasional. Jadi siapa bilang uang kita lari keluar? Akan tetapi sebaliknya, uang (dari luar justru) masuk ke kita," kata Luhut Binsar Panjaitan dalam keterangannya, Senin (15/4/2019).

Ia menambahkan bahwa Gojek memiliki peran penting bagi perekonomian karena mampu memberi sumbangan terhadap ekonomi Indonesia sebesar Rp 44,2 triliun lebih. Teknologi super-app yang dikembangkan perusahaan ojek daring ini juga dinilai berhasil menciptakan lapangan kerja yang banyak.

"Katanya teknologi bisa membuat susah mencari lapangan kerja. Namun Gojek membuktikan bahwa teknologi bisa membuka lapangan kerja," tambah Luhur Binsar Panjaitan.

CEO Gojek, Nadiem Makarim (kiri) dan Menteri Kordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan berfoto bersama di Jakarta, Kamis (11/4/2019). [Suara.com/Tivan Rahmat]

Ia juga menyatakan bahwa prospek Indonesia sebagai pasar digital diperkirakan akan semakin besar dan akan mencapai 100 miliar dolar AS miliar pada 2025.

"Jadi kalau investor mau masuk ke Gojek, itu adalah cerminan stabilitas ekonomi dan stabilitas politik kita. Bagusnya adalah manajemen Gojek dipegang orang Indonesia. (Jadi) kita yang atur, bukan didikte negara lain," tandas Luhur Binsar Panjaitan.

Ditambahkan pula oleh Nadiem Makarim, founder dan Chief Executive Officer (CEO) Gojek, bahwa pihaknya bangga sekaligus bersyukur bahwa produk buatan anak bangsa ini dapat menjadi pemain regional. Salah satu contohnya adalah berkecimpung di Thailand dengan nama GET.