Suara.com - Belajar dari kejadian ramainya Pasar Tanah Abang di akhir pekan kemarin (2/5/2021), pencegahan penyebaran Covid-19 mesti mendapatkan perhatian ekstra. Dikutip dari kantor berita Antara, pengunjung datang menggunakan beragam moda transportasi darat.
Mulai TransJakarta, taksi, bajaj, ojek, angkot hingga kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. Sepeda motor maupun mobil. Dari beragam penjuru, semua bertumpu di Pasar Tanah Abang.
Mirisnya, dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan bakal berakhir, gelombang mudik dan berbelanja tetap saja terjadi. Padahal, bila ditilik dari protokol kesehatan, salah satu medium penyebaran virus Corona adalah kerumunan. Dengan kata lain tidak mengindahkan physical distancing.
Pelarangan mudik di Jakarta disiasati dengan percepatan waktu kembali ke daerah asal. Yaitu sebelum tiba pelarangan total Larangan Mudik Lebaran 2021 pada 6-17 Mei, pemudik sudah bertolak dengan moda transportasi darat, baik umum maupun pribadi, seperti mobil dan sepeda motor. Sehingga gelombang mudik dahsyat terhindarkan, namun tetap saja terjadi pergerakan warga dari perkotaan ke berbagai daerah.
Lantas warga Ibu Kota dan kota-kota penyangga yang tidak mudik atau belum mudik sebagian besar menuju lokasi perbelanjaan baju baru Lebaran. Salah satunya memadati kawasan Pasar Tanah Abang. Tanpa kekhawatiran terhadap penyebaran dan penularan virus Corona secara masif.
Situasi miris ini menunjukkan bahwa perburuan terhadap pakaian Lebaran seolah lebih penting daripada kekhawatiran dan ketakutan terhadap penyebaran Covid-19. Padahal sudah disampaikan berulangkali oleh para ahli kesehatan dan pemerintah bahwa virus ini sangat potensial menyebar di tengah kerumunan.
Pada Sabtu (1/5/2021) terjadi lonjakan jumlah pengunjung yang sebelumnya 35 ribu menjadi 87 ribu. Lantas Minggu (2/5/2021) malahan tembus sekitar 100 ribu pengunjung.
Hampir setengah dari pengunjung Pasar Tanah Abang datang dan pulang menggunakan jasa angkutan kereta rel listrik (KRL). Gelombang pengunjung itu juga turut menimbulkan kerumunan di Stasiun Tanah Abang.
Kondisi ini memaksa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan rekayasa jam operasional Pasar Tanah Abang dengan sebagian pasar tutup pada pukul 16.00 WIB dan sebagian lagi tutup jam 17.00 WIB.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Lakukan Razia Knalpot Bising, Jaga Ketenangan Ramadhan
Pemprov DKI Jakarta juga berkoordinasi dengan pengelola kereta api untuk membatasi kerumunan di Stasiun Tanah Abang dan Pasar Tanah Abang.
Kekinian, PT KAI meniadakan keberangkatan dan pemberhentian kereta di Stasiun Pasar Tanah Abang pada pukul 15.00 sampai 19.00 WIB.
Polda Metro Jaya bersama TNI telah mendirikan posko pengamanan untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan masyarakat di Pasar Tanah Abang.
Sebanyak 2.500 personel gabungan dikerahkan untuk mengawasi protokol kesehatan dan mengantisipasi lonjakan pengunjung di Pasar Tanah Abang. Petugas disebar untuk mengawal sejumlah titik rawan kerumunan.
Upaya mengendalikan gelombang warga menuju Pasar Tanah Abang juga dilakukan dengan membatasi kapasitas pengunjung hanya 50 persen. Selain menutup Stasiun Tanah Abang pada jam tertentu, akses transportasi umum lainnya juga dibatasi serta dilakukan pengalihan arus lalu lintas.
Bagi pengguna mobil dan sepeda motor, dengan tidak mengoperasikan tunggangan kesayangan untuk berburu baju baru secara langsung berarti besar. Yaitu melindungi diri sendiri dan keluarga. Demikian pula dengan keputusan tidak melakukan mudik--dan bukannya malah mensiasati dengan bertolak terlebih dahulu dari jadwal Larangan Mudik 2021.
Berita Terkait
-
5 Pilihan Sunscreen untuk Motoran Sesuai Review: Tahan Keringat dan Tak Bikin Kusam
-
Berapa Harga Motor Bebek Baru 2026? Intip Keunggulannya yang Bikin Matic Minder
-
Viral Denda Ban Gundul Rp250 Ribu, Korlantas Polri Ungkap Fakta Sebenarnya
-
TNI AD Tegaskan Babinsa Tak Punya Wewenang Awasi Wajib Pajak, Publik Diminta Tak Resah
-
Motor Listrik Nasional Buatan Anak Bangsa Siap Meluncur, Ini Bocorannya
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan