Otomotif / mobil
RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Aliansi Nissan, Renault, dan Mitsubishi. [Shutterstock]

Suara.com - Perusahaan aliansi otomotif Renault, Mitsubishi, dan Nissan masing-masing melakukan investasi lebih dari 23 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk pengembangan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) hingga lima tahun ke depan.

Seorang sumber anonim menyatakan bahwa ketiga perusahaan mobil yang diwadahi dalam satu aliansi--semasa Carlos Ghosn menjadi pucuk pimpinan Nissan--itu berharap, dengan kesepakatan tersebut bakal lahir 30 model kendaraan listrik baru yang didukung lima platform umum pada 2030.

Pabrik Nissan di Tochigi, Jepang. Sebagai ilustrasi penggunaan baterai mobil listrik Nissan untuk produk EV [Nissan via ANTARA]

"Aliansi hingga 2030 bertujuan untuk menunjukkan kerja sama yang intensif di antara para pembuat mobil tentang elektrifikasi dan koneksi mobilitas," jelas sumber anonim ini, seperti dikutip dari Electreck.

Lima platform umum yang dikembangkan nantinya diharapkan mampu mencakup 90 persen dari EV yang akan diluncurkan perusahaan pada 2030.

Baca Juga: Renault-Geely Jalin Kemitraan Kembangkan Produk HEV dan ICE untuk Pasar Korea Selatan

Sejauh ini aliansi telah mengembangkan dan memasarkan empat platform EV umum. Untuk memproduksi kendaraan listrik yang terjangkau, aliansi akan menstandarisasi dan berbagi baterai mobil listrik dengan teknologi baterai Li-ion, yang telah dikembangkan Nissan.

Nissan mengatakan pada November tahun lalu bahwa pihaknya berencana untuk menghabiskan sekitar 18 miliar dolar AS selama lima tahun untuk mempercepat elektrifikasi kendaraan, meluncurkan 23 kendaraan listrik, termasuk hibrida, dan listrik pada 2030.

Sementara Renault telah menegaskan untuk menjadi 100 persen listrik di Eropa pada 2030. Hanya, target ini tidak berlaku untuk pasar di luar Eropa.

Komentar