- Pemerintah finalisasi pencabutan izin Martabe demi aspek legalitas.
- Tambang Martabe berpotensi diambil alih BUMN baru bernama Perminas.
- Outlook negatif membayangi RI akibat kebijakan yang sulit diprediksi pasar.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kembali angkat bicara mengenai nasib lahan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pasca pencabutan izin PT Agincourt Resources (PTAR), pemerintah kini tengah fokus merapikan berkas administrasi.
"Nah, setelah dilakukan pencabutan maka tindak lanjutnya adalah penataan administrasi untuk mempercepat keabsahan dari pencabutan," ujar Bahlil di Jakarta, dikutip Jumat (6/2/2026).
Bahlil menegaskan, langkah tegas Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) mencabut izin tambang tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan evaluasi, aktivitas tambang tersebut dinilai menjadi salah satu pemicu bencana alam di wilayah Sumatera Utara.
"Kita kan sama-sama sudah tahu bahwa tambang tersebut telah dicabut atas dasar penilaian satgas terhadap berbagai penyebab musibah yang terjadi di Sumatera Utara," tegasnya.
Di balik penataan administrasi tersebut, tersiar kabar kuat bahwa lahan kaya emas ini akan diambil alih oleh BUMN anyar, Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, tidak menampik kemungkinan tersebut meski prosesnya masih harus melewati meja rapat lintas kementerian.
"Ini akan dibahas antar kementerian untuk bagaimana keputusannya," kata Yuliot di Kompleks Parlemen, Senayan.
Namun, langkah agresif pemerintah mencabut 28 izin perusahaan dan mengalihkannya ke tangan negara (via Danantara) mulai memicu alarm di mata investor.
Lembaga pemeringkat Moody’s baru-baru ini menurunkan outlook Indonesia dari stabil ke negatif. Kebijakan yang dianggap sulit diprediksi ini mulai dimaknai global sebagai bentuk "nasionalisasi aset swasta".
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengingatkan, meski ekonomi 2025 tumbuh 5,11%, risiko kebijakan yang "prematur" bisa menjadi batu sandungan di 2026.
Baca Juga: Moody's Tebar Peringatan Dini buat Prabowo: Kebijakan Ugal-ugalan!
"Salah satunya kebijakan sulit diprediksi, termasuk pengambil alihan 28 izin perusahaan ke Danantara yang dimaknai sebagai nasionalisasi aset swasta," kata Bhima kepada Suara.com.
Selain isu tambang, fokus pasar juga tertuju pada rencana pelebaran defisit anggaran dan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memakan biaya jumbo.
Jika disiplin fiskal longgar dan peringkat Moody’s melorot ke level Baa3, dampaknya tak main-main: suku bunga utang akan melonjak tajam dan nilai tukar rupiah terancam tertekan hebat. Kini, bola panas penataan tambang Martabe dan kedisiplinan anggaran ada di tangan pemerintahan Prabowo.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat