Suara.com - Di balik gempuran balap MotoGP yang menegangkan, terdapat strategi tersembunyi yang dilakukan para mekanik. Salah satunya adalah dengan menempatkan tekanan ban motor seminimal mungkin. Hal ini tentu memicu pertanyaan, mengapa mereka berani mengambil risiko pelanggaran aturan demi strategi ini?
Dilansir dari Corsedimoto, tekanan ban depan tidak boleh terlalu tinggi karena akan mengurangi daya cengkeram ban.
Tekanan ban motor juga dipastikan akan naik ketika balapan berjalan akibat pemuaian karena kenaikan suhu. Kenaikan ini akan semakin tinggi ketika pembalap berada di dalam rombongan, di mana roda depan kesulitan mendapat angin segar dari depan.
Di sinilah para mekanik memainkan angka tekanan ban, dengan sengaja menguranginya sebelum balapan dimulai. Tujuannya adalah agar ketika tekanan ban naik selama balapan, angkanya tidak terlalu tinggi dan pembalap tetap mendapatkan daya cengkeram ban yang optimal.
Perhitungan Cermat dan Risiko Besar
Para mekanik tidak melakukannya asal-asalan. Mereka harus melakukan perhitungan cermat dan tepat untuk memastikan tekanan ban tetap berada di batas yang aman, namun tetap memberikan daya cengkeram maksimal. Hal ini tentunya berisiko tinggi, karena jika tekanan ban melebihi batas yang ditentukan, pembalap akan dikenakan penalti 16 detik.
Pendapat Para Pembalap dan Michelin
Fabio Quartararo, pembalap Yamaha, mengungkapkan bahwa tekanan ban depan sangat berpengaruh pada performa motor.
Tekanan yang terlalu tinggi akan membuat motornya sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Quartararo dan timnya melakukan simulasi balap untuk mengetahui perhitungan tepat dalam masalah tekanan ban.
Baca Juga: Sempat Mati Suri, Norton Siap Kenalkan 6 Motor Baru?
"Tekanan ban depan punya efek performa kepada motor Yamaha. Jika temperaturnya berubah-ubah terlalu banyak dari nilai idealnya, mengendarai YZR-M1 akan menjadi sulit," ujar Fabio Quartararo.
Di sisi lain, Michelin, sebagai pemasok ban MotoGP, tidak sepenuhnya setuju dengan strategi ini. Menurut Michelin, efektivitas strategi ini tergantung pada berbagai faktor, seperti gaya pengereman, jenis motor, dan distribusi berat.
Michelin juga menekankan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi performa ban, seperti cover cakram yang dapat meningkatkan panas ban.
"Itu tergantung dengan seberapa keras kau mengerem, itu juga penting. Tergantung dengan motornya, perpindahan muatannya serta distribusi beratnya," kata bos Michelin Motorsport, Piero Taramasso.
"Ada banyak hal lainnya, misalnya juga dengan cover cakram, hal itu membantu aerodinamika dan juga menaikkan kecepatan, tapi juga malah menambah panas, membuat cakram lebih panas sehingga bannya juga ikutan," jelasnya.
Dilema Cengkeraman dan Penalti
Meskipun Michelin memiliki pendapatnya sendiri, kenyataannya para pembalap lah yang merasakan langsung performa ban di lintasan. Mereka mengeluhkan performa ban yang menurun drastis ketika tekanan naik dan daya cengkeramnya hilang. Hal ini membuat strategi mengurangi tekanan ban menjadi pilihan yang paling jitu, meski risikonya besar.
Strategi menempatkan tekanan ban seminimal mungkin di MotoGP merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, strategi ini dapat meningkatkan daya cengkeram ban dan meningkatkan performa pembalap. Di sisi lain, strategi ini berisiko tinggi karena dapat melanggar aturan dan mengakibatkan penalti. Para mekanik dan pembalap harus mempertimbangkan dengan matang strategi ini untuk mendapatkan hasil terbaik dengan tetap mematuhi aturan yang berlaku.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Cari Skutik Murah Tapi Gak Murahan? Simak Kelebihan dan Penyakit Langganan Honda Genio
-
Motor Termurah BMW Harganya Setara Yamaha NMAX
-
Ironi Kontrak Triliunan Koperasi Merah Putih yang Pilih Impor Mobil India Ketimbang Buatan Lokal
-
Ironi Kontrak Triliunan Koperasi Merah Putih yang Pilih Impor Mobil India Ketimbang Buatan Lokal
-
Pemerintah Batasi Pergerakan Kendaraan Demi Tekan Kemacetan Mudik Lebaran 2026
-
5 Pilihan Motor Matic Murah Siap Kuasai Tanjakan, Cocok Buat Mudik ke Pegunungan
-
Ini Jadi Pesaing Berat Yamaha Aerox 155, Mending Mana sama Viento 180? Harga Mirip!
-
Harga bak Langit dan Bumi: Inilah Pesaing Yamaha Grand Filano yang Lebih Murah Rp10 Juta
-
5 Fakta Bendera Indonesia Berkibar di WSSP: Aldi Satya Mahendra Naik Motor Apa?
-
Buruh: 10.000 Pekerja Diserap Jika PT Agrinas Beli Pikap di Dalam Negeri