Otomotif / Mobil
Selasa, 24 Februari 2026 | 19:40 WIB
Ilustrasi rencana impor 105.000 unit pick-up India dalam bentuk CBU. (Foto: TATA Motors)
Baca 10 detik
  • Rencana impor mobil India senilai Rp24,66 triliun berpotensi mengganggu struktur manufaktur otomotif nasional.
  • Gaikindo berharap industri domestik dapat memenuhi kebutuhan tersebut mengingat kapasitas produksi belum termanfaatkan maksimal.
  • Pemenuhan dari produksi lokal akan menciptakan dampak signifikan pada ekosistem otomotif dan menjaga investasi industri.

Suara.com - Rencana impor mobil India untuk operasional Koperasi Merah Putih kini menjadi pusat perhatian industri otomotif nasional. Proyek dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp24,66 triliun tersebut dinilai berpotensi mengganggu struktur manufaktur di dalam negeri.

Di tengah polemik ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyuarakan harapan agar industri nasional mendapatkan kesempatan terlibat. Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika menegaskan bahwa kapasitas produksi pabrik kendaraan di Indonesia saat ini masih sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Berdasarkan data industri, total kapasitas produksi kendaraan nasional menyentuh angka 2,59 juta unit per tahun. Namun, realisasinya baru mencapai kisaran 1,3 juta unit yang mencakup penjualan domestik sebesar 803.000 unit dan ekspor 518.000 unit.

Putu menjelaskan bahwa masih terdapat ruang produksi yang sangat besar dan belum terutilisasi maksimal.

“Artinya kita masih punya ruang sekitar 1,2 juta unit yang bisa kita produksi kalau pasarnya ada,” ungkap Putu di Jakarta pada Selasa 24 Februari 2026.

Menurut Putu, pemenuhan kebutuhan kendaraan dari industri nasional akan memberikan dampak signifikan bagi ekosistem otomotif dari hulu ke hilir. Ia menekankan bahwa langkah ini krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Kita sangat berharap, kita sama-sama memajukan industri otomotif ini karena multiplier effect-nya itu luas sekali, besar sekali,” tuturnya.

Ilustrasi Impor Mobil India. (Gemini)

Peningkatan permintaan domestik melalui proyek negara diyakini mampu menjaga keberlangsungan tenaga kerja sekaligus menarik investasi baru. Industri kendaraan bermotor sangat bergantung pada dinamika pasar sehingga dukungan domestik menjadi kunci utama.

“Kalau ini didorong, dampaknya pasti akan sangat luar biasa bagi industri kita. Bukan hanya pekerjaan bisa kita pertahankan tetapi investasi di industri ini juga akan terus berkembang,” jelas Putu.

Baca Juga: Ambisi Ekspor Kendaraan Komersial Indonesia Melambung di GIICOMVEC 2026

Ia berharap industri nasional bisa mengambil peran besar dalam program ini demi kemajuan bangsa.

“Sehingga kami terus berdoa, apalagi di bulan Ramadhan ini, semoga ini memang bisa menjadi bagian pekerjaan kita sehingga kita bisa bersama-sama mendorong kegiatan usaha industri yang memberikan manfaat bagi bangsa ini,” pungkasnya.

Load More