Berbeda dengan Toyota Kijang yang terus berinovasi hingga lahirnya Innova Zenix dengan mesin hybrid, Panther harus pamit.
3 Alasan Mengapa Isuzu Panther Bekas Kurang Ideal untuk Kota Besar
Meskipun Isuzu Panther unggul dalam durabilitas, efisiensi bahan bakar diesel subsidi, dan suspensi yang lembut namun tangguh, ada beberapa faktor yang membuatnya kurang cocok sebagai kendaraan utama di kota metropolitan:
1. Harga Bekas yang Masih Terlalu Tinggi
Meskipun sudah discontinue, permintaan pasar terhadap Isuzu Panther bekas tetap tinggi, membuat harganya melambung dan cenderung stabil.
Bayangkan saja, sebuah Panther 2.5 LV transmisi manual tahun 2018 bisa dibanderol sekitar Rp140 juta sampai Rp190 juta-an.
Dengan bujet yang sama, Anda bisa mendapatkan pilihan lain yang lebih modern dan fitur lebih lengkap.
Misalnya, Toyota Kijang Innova diesel bekas tahun 2012 dengan transmisi otomatis, atau bahkan Toyota Fortuner diesel bekas tahun 2012 yang juga bertransmisi matic.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa dari segi value for money, Panther mungkin kalah bersaing di harga tersebut.
2. Fitur yang Terbatas dan Ketinggalan Zaman
Baca Juga: Daftar Harga Isuzu Panther Bekas dari Tahun ke Tahun, Mulai Rp60 Jutaan!
Dengan harga bekas yang masih di atas Rp180 juta untuk model-model tahun muda, Anda akan mendapatkan mobil dengan fitur yang sangat terbatas dibandingkan standar mobil modern saat ini.
Panther memang andal, tetapi kenyamanan dan teknologi yang ditawarkan sudah tertinggal jauh.
Di segmen harga yang setara, Anda bisa mendapatkan mobil bekas dengan fitur jauh lebih lengkap, seperti Toyota Sienta, Honda CR-V, atau bahkan Toyota Camry bekas yang menawarkan pengalaman berkendara lebih premium dan canggih.
Konsumen modern di perkotaan biasanya mengutamakan fitur keselamatan aktif, sistem infotainment terintegrasi, dan kenyamanan interior yang lebih baik.
3. Tantangan Ketersediaan Bahan Bakar Diesel Subsidi di Kota Besar
Salah satu alasan utama Panther tidak lagi diproduksi adalah karena mesinnya tidak memenuhi standar emisi Euro 4.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Studi Ungkap Cuaca Ekstrem Bisa Pangkas Jarak Tempuh Mobil Listrik dan Mobil Hybrid
-
Bahaya Kebiasaan Menunda Isi Bensin Mobil yang Sering Diabaikan Pengendara
-
Daftar 13 SPBU yang Sudah Tidak Jual Pertalite Lagi
-
Telat 1 Hari Bayar Pajak Motor, Apakah Kena Denda? Begini Penjelasannya
-
KBA Servis Gratis Mesin Tempel Yamaha Perkuat Sektor Maritim Nasional
-
Tips Aman Menyebrang Rel Kereta Api Gunakan Mobil Hybrid, Apakah Sama dengan Mobil Listrik ?
-
Motor Listrik Bisa Tekan Konsumsi BBM, Ini 4 Pilihan Model Mulai Rp 13 Jutaan
-
Honda Berpotensi Merugi Pasca Batalkan Proyek Pabrik Mobil Listrik Rp 179 Triliun
-
Terpopuler: Subsidi Motor Listrik Jalan Lagi, Deretan Mobil Berbaterai Nikel
-
Menyibak Pesona Motor Italia Sekelas Vixion tapi V-Twin, Harga Masih Jadi Misteri