Suara.com - Rencana pemerintah Indonesia untuk mencampurkan etanol ke bahan bakar minyak (BBM) sedang memasuki tahap serius. Program bioethanol blending ini akan dimulai secara bertahap, dengan target penggunaan campuran E5 (5% etanol) atau E10 (10% etanol) untuk bensin Pertamina.
Langkah ini diambil untuk menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Tapi di balik ambisi itu, muncul pertanyaan, berapa sebenarnya harga etanol di Indonesia, dan apakah ekonomis untuk dijadikan campuran BBM?
Harga Etanol di Indonesia
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara rutin menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bioetanol sebagai acuan resmi pembelian oleh Pertamina dan pelaku industri energi.
Berikut data resmi terakhir yang tersedia:
- HIP Bioetanol Oktober 2024: Rp 14.144 per liter
- HIP Bioetanol Mei 2024: Rp 14.528 per liter
Harga ini digunakan sebagai dasar transaksi antara produsen bioetanol dan pihak yang membutuhkan bahan campuran BBM.
Namun, dalam praktiknya, produsen etanol menyebut harga pembelian yang ditawarkan Pertamina (sekitar Rp 11.000 per liter) masih dianggap belum ekonomis, karena belum menutupi biaya produksi dan pemurnian.
Produsen menilai harga keekonomian ideal seharusnya berada di kisaran Rp 13.000–14.000 per liter, menyesuaikan kualitas etanol industri (95–96%) yang harus dimurnikan untuk memenuhi standar bahan bakar.
Sementara itu, untuk kebutuhan industri non-BBM seperti antiseptik, farmasi, dan laboratorium, etanol teknis 96% dijual di pasaran online sekitar Rp 30.000 per liter.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Etanol
Baca Juga: ESDM Bantah Ada Pembelaan Soal Saran SPBU Swasta Beli BBM Murni dari Pertamina
Beberapa komponen utama yang menentukan harga etanol di Indonesia antara lain:
1. Kualitas & kemurnian etanol
Etanol yang digunakan untuk BBM harus sangat murni dan bebas air (anhidrat). Proses pengeringan menambah biaya produksi.
2. Kapasitas produksi & efisiensi pabrik
Pabrik skala besar bisa memproduksi etanol dengan biaya lebih rendah dibanding pabrik kecil.
3. Ketersediaan bahan baku
Indonesia mengandalkan molases (limbah tebu) atau jagung sebagai bahan dasar. Jika bahan baku terbatas, harga naik.
4. Biaya transportasi dan distribusi
Pabrik etanol umumnya berada di Jawa Timur dan Lampung, sehingga distribusi ke kilang BBM lain membutuhkan ongkos tambahan.
5. Kebijakan pemerintah dan insentif
Pemerintah bisa menekan harga jual melalui subsidi, keringanan pajak, atau penetapan harga jaminan (off-take guarantee).
Tantangan Harga Etanol untuk Campuran BBM
Dari sisi keekonomian, harga etanol di kisaran Rp 13.000–14.000 per liter masih relatif tinggi jika dibandingkan harga bensin nonsubsidi seperti Pertamax (sekitar Rp 14.000–15.000 per liter pada Oktober 2025).
Artinya, tanpa insentif atau subsidi, pencampuran etanol justru bisa meningkatkan biaya produksi BBM. Inilah yang sedang dikaji oleh pemerintah agar program bioetanol tetap efisien dan tidak membebani konsumen.
Strategi Agar Harga Etanol Lebih Kompetitif
- Menetapkan harga pembelian wajar untuk etanol agar produsen tidak merugi.
- Memberikan insentif fiskal dan subsidi energi terbarukan.
- Membangun pabrik etanol skala besar di dekat sumber bahan baku (misalnya pabrik gula).
- Uji coba blending bertahap (E5, E10) di daerah penghasil tebu terlebih dahulu.
- Meningkatkan kualitas riset dan efisiensi teknologi fermentasi.
Harga etanol di Indonesia saat ini berada di kisaran Rp 13.000–14.000 per liter, sesuai standar keekonomian industri, dengan acuan resmi pemerintah sekitar Rp 14.144 per liter.
Namun untuk menjadikannya campuran BBM yang berkelanjutan, perlu intervensi kebijakan, mulai dari harga pembelian yang realistis hingga subsidi energi hijau. Jika strategi ini berhasil, Indonesia bukan hanya mandiri energi, tapi juga selangkah lebih maju menuju transisi bahan bakar rendah emisi.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mobil Belum Diterima Konsumen, Jaecoo Berpacu Produksi J5 EV
-
GAIKINDO Pastikan Industri Otomotif Lokal Sanggup Penuhi Seluruh Kebutuhan Mobil Pick Up Nasional
-
9 Rekomendasi Mobil untuk Campervan yang Nyaman dan Mudah Dimodifikasi
-
Bingung Pilih Toyota Avanza atau Rush Biar Tabungan Tak Terkuras? Ini Dia yang Paling Menguntungkan
-
Berapa Daya Angkut Pick Up Mahindra Scorpio? Akan Dipakai Agrinas, Unggul dari Suzuki Carry
-
5 Rekomendasi Motor Bekas Rp5 jutaan yang Bisa Dibeli usai THR Cair
-
Apa Saja Mobil Keluarga dengan Pintu Geser? Ini 7 Opsinya, Harga Mulai Rp100 Jutaan
-
Bodi Mungil Gaya Menawan, Mampukah Wuling Baru Ini Geser Dominasi Air EV?
-
Mobil Rp8,5 M Gubernur Kaltim Viral, Ini Aturan Resmi Kendaraan Dinas Kepala Daerah
-
Isuzu Indonesia Perkuat Dominasi Pasar Kendaraan Niaga Menuju Tahun 2026