Suara.com - Banyak orang bertanya apakah benar mobil Honda bekas dengan pajak paling gak masuk akal masih layak dimiliki di Indonesia. Di pasar mobil bekas, Honda tetap jadi salah satu merek yang paling dicari karena reputasinya yang kuat, spare part mudah dicari, dan perawatan relatif terjangkau. Namun, biaya pajak yang harus dibayar tiap tahun seringkali membuat pembeli mengernyit karena terasa “mahal” dibanding nilai pasar mobil bekas itu sendiri.
Pajak tahunan sebuah mobil bekas Honda bisa bervariasi tergantung tahun, kapasitas mesin, dan kondisi unit. Beberapa model dengan bodi lebih besar dan mesin lebih tinggi cenderung memerlukan pajak tahunan lebih besar, yang bagi sebagian orang terasa tidak sebanding dengan harga bekasnya.
Berikut ini deretan mobil Honda bekas yang menarik dari sisi spesifikasi, biaya operasional, dan pajak tahunan, tapi bukan untuk kaum mendang-mending.
1. Honda Brio (2016–2020)
Honda Brio generasi awal hingga facelift, yang populer sebagai mobil Honda bekas dengan pajak mahal relatif terhadap harganya. Brio hadir dengan mesin 1.2 liter yang cukup bertenaga untuk penggunaan harian di kota.
Mesin 1.2 liter 4-silinder milik Brio menawarkan respons yang halus dan konsumsi bahan bakar yang efisien di kisaran 14–16 km/l tergantung gaya berkendara. Interiornya ringkas namun praktis, membuat Brio cocok sebagai city car. Karena permintaan tinggi, harga bekas untuk unit 2017–2019 berkisar Rp110 juta–Rp150 jutaan tergantung kondisi unit dan kilometer pakai.
Dari sisi pajak tahunan, meskipun harga bekasnya relatif terjangkau, pajak wajib kendaraan bermotor untuk Brio bisa tetap di atas rata-rata mobil hatchback lain karena nilai jual kembali mobil yang stabil. Pajak ini mencakup progres nilai jual kendaraan dan tarif dasar sesuai wilayah domisili.
2. Honda Jazz (2008–2013)
Honda Jazz bekas selalu jadi incaran penggemar hatchback karena reputasi dinamisnya dalam pengendalian dan bahan bakar yang kompetitif. Platformnya ringan dan kabin lega, cocok untuk penggunaan keluarga kecil atau aktivitas perkotaan.
Mesin 1.5 liter dengan konfigurasi VTEC memungkinkan akselerasi yang responsif tanpa harus sering menekan pedal gas. Konsumsi bahan bakar biasanya sekitar 12–16 km/l di jalan perkotaan, membuat Jazz tetap hemat harian. Unit bekas dari tahun 2008–2013 bisa dibeli mulai dari sekitar Rp70 juta–Rp120 jutaan tergantung kondisi.
Namun, pajak tahunan yang dibayarkan untuk Jazz gen ini sering terasa agak “mahal” mengingat harga bekasnya yang turun lebih cepat dibanding nilai pajak. Pajak biasanya mengikuti tabel BBN dan nilai jual kendaraan otomatis yang ditetapkan daerah Anda, sehingga Jazz bisa terasa kurang sebanding dari sisi biaya tahunan.
Baca Juga: 5 Mobil Bekas Manual di Bawah Rp50 Juta, Mesin Bandel dan Anti Boros!
3. Honda City Type Z (2000–2005)
Honda City Type Z menjadi salah satu sedan kompak yang banyak dicari di pasar mobil bekas Indonesia. Desainnya klasik, mesin 1.5 liter SOHC VTEC terasa responsif, dan interiornya cukup nyaman untuk sedan di kelasnya.
Konsumsi bahan bakar untuk City Type Z umumnya di kisaran 11–13 km/l tergantung kondisi dan pola berkendara Anda. Harga bekas City generasi awal ini relatif murah, sering berada di rentang Rp45 juta–Rp70 jutaan.
Namun, pajak tahunan di beberapa daerah bisa berada mendekati atau bahkan lebih dari Rp1 juta, yang bagi beberapa pemilik terasa terlalu tinggi bila dibandingkan dengan nilai jual unit bekasnya yang relatif rendah. Ini menjadi catatan penting jika Anda mempertimbangkan mobil Honda bekas dengan pajak paling mahal untuk dimiliki.
4. Honda CR-V Gen 1 (1999–2005)
Honda CR-V generasi pertama sering dicari karena ruang kabin yang luas dan kemampuan jelajahnya sebagai SUV kompak. Mesin 2.0 liter DOHC cukup kuat untuk penggunaan angkut keluarga atau perjalanan jauh, dengan konsumsi bahan bakar berkisar 8–10 km/l.
Harga bekas SUV ini di pasar saat ini bisa berada sekitar Rp80 juta–Rp150 jutaan dengan kondisi variatif.
Namun karena CR-V memiliki kubikasi mesin lebih besar dari hatchback atau sedan kecil, pajak tahunannya cenderung lebih tinggi, sering terasa “mahal” jika dibandingkan dengan nilai jual bekasnya. Pajak yang lebih besar ini berasal dari tarif progresif yang mengikuti kapasitas mesin dan nilai jual kendaraan bermotor di daerah Anda.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
5 Fakta Menarik Cheveyo Balentien: Pemain Jawa-Kalimantan yang Cetak Gol untuk AC Milan
-
Siapkan Uang Rp100 Miliar! Orang Terkaya RI Ini Serok 84 Juta Lembar Saham saat IHSG Anjlok
-
5 HP Memori 512 GB Paling Murah, Terbaik untuk Gamer dan Kreator Konten Budget Terbatas
-
7 HP RAM 8 GB Rp2 Jutaan Terbaik dengan Baterai Jumbo, Cocok buat Multitasking dan Gaming Harian
-
IHSG Anjlok, Purbaya: Jangan Takut, Saya Menteri Keuangan
Terkini
-
5 Mobil Listrik Terbaik untuk Ibu Rumah Tangga: Desain Mungil, Parkir Gampang, dan Irit
-
5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
-
Terpopuler: 5 Sepeda Listrik yang Kuat Nanjak, Pilihan Motor Bebek 150cc Terkencang
-
4 MPV Bekas Alternatif Avanza di Bawah Rp90 Juta yang Kuat Nanjak dan Irit Biaya Perawatan
-
Tekanan Fiskal Semakin Berat, Kemenperin Tak Lagi Ngotot Minta Insentif Otomotif
-
Motor Apa Saja yang Boros Bensin? Kenali Penyebab dan Daftar Modelnya
-
Tembus 250 Ribu Unit, Penjualan Xiaomi SU7 Ungguli Tesla Model 3 Sepanjang 2025
-
Suzuki Jawab Rencana Peluncuran Motor Listrik di Indonesia
-
Adu Mobil Seharga NMax tapi Muat 8 Penumpang: Pilih Mitsubishi Maven atau Suzuki APV?
-
5 Motor Bebek 150cc Terkencang di Pasaran, Segini Beda Harga Baru vs Bekas