Suara.com - Memiliki mobil 7 seater memang menjadi impian banyak keluarga terutama di Indonesia. Selain bisa mengangkut seluruh anggota keluarga dengan nyaman, mobil jenis ini juga fleksibel untuk kebutuhan mudik, liburan, hingga aktivitas harian seperti antar-jemput anak sekolah.
Tak heran jika di pasar mobil bekas, jenis ini selalu ramai peminat, apalagi harganya kini semakin terjangkau. Dengan budget di bawah Rp100-150 jutaan, pilihan mobil keluarga bekas terasa sangat menggoda.
Namun, harga beli yang murah tidak selalu berarti hemat dalam jangka panjang. Banyak calon pembeli hanya fokus pada tampilan, fitur, atau harga miring tanpa mempertimbangkan biaya perawatan setelah mobil dibawa pulang.
Padahal, untuk keluarga dengan budget perawatan pas-pasan, pengeluaran tak terduga seperti kerusakan transmisi, masalah kelistrikan, atau komponen yang sulit dicari bisa menjadi beban finansial yang cukup berat.
Alih-alih hemat, justru bisa membuat pengeluaran membengkak setiap bulan.
Karena itu, penting untuk mengetahui mobil apa saja yang sebaiknya dipertimbangkan ulang jika dana servis dan perawatan terbatas.
Berikut ini adalah contoh 4 mobil 7 seater yang sering dianggap kurang ramah di kantong dalam hal perawatan, terutama dalam kondisi bekas dan usia pakai yang sudah tidak muda lagi.
Chevrolet Captiva
Secara tampilan, Chevrolet Captiva terlihat gagah dan premium. SUV 7 penumpang ini pernah menjadi primadona karena desainnya modern dan fitur yang cukup lengkap di masanya.
Harga bekasnya saat ini juga sangat menarik yaitu mulai dari Rp95 juta, bahkan ada yang dibanderol setara LMPV Jepang yang lebih sederhana.
Baca Juga: Punya Garasi Cuma Lebar 2,5 Meter? Ini 5 Mobil Pendek yang Pintunya Masih Bisa Dibuka Lebar
Sayangnya, khususnya untuk Captiva generasi awal (sekitar 2012 ke bawah), biaya perawatan menjadi salah satu kelemahan utama.
Beberapa pemilik mengeluhkan masalah pada sensor-sensor mesin, sistem pendingin, hingga transmisi otomatisnya. Jika terjadi kerusakan, biaya perbaikannya tidak bisa dibilang murah. Bahkan untuk komponen tertentu, harga part bisa jauh lebih tinggi dibandingkan mobil Jepang sekelasnya.
Selain itu, ketersediaan suku cadang Chevrolet di Indonesia tidak sebanyak merek Jepang. Walau masih ada bengkel spesialis, jaringan dan stok part tidak semudah Avanza, Xenia, atau Innova.
Bagi kamu yang memiliki dana servis terbatas, risiko kerusakan besar pada Captiva bisa menjadi tekanan finansial yang signifikan.
Mobil ini mungkin nyaman dan bertenaga, tetapi kurang cocok jika tujuan utara adalah menekan biaya perawatan jangka panjang.
Nissan Serena/Evalia
Nissan dikenal sebagai produsen mobil yang nyaman dan memiliki fitur menarik. Evalia dan Serena, khususnya, menawarkan kabin lega yang cocok untuk keluarga besar.
Serena bahkan dikenal sebagai MPV premium dengan kenyamanan tinggi. Harga bekasnya kini cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp70 juta yang membuatnya terdengar cukup terjangkau.
Namun, perhatian khusus perlu diberikan pada teknologi transmisi CVT generasi lama yang digunakan pada beberapa model tersebut.
Transmisi CVT memang menawarkan perpindahan gigi yang halus dan efisien bahan bakar. Akan tetapi, pada unit lama dengan usia pakai tinggi, risiko kerusakan CVT meningkat jika perawatan sebelumnya kurang optimal.
Masalahnya, biaya perbaikan atau penggantian CVT tidak murah. Bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kerusakan. Untuk keluarga dengan dana perawatan pas-pasan, angka tersebut tentu cukup memberatkan.
Selain itu, tidak semua bengkel umum benar-benar memahami penanganan CVT, sehingga sering kali harus ke bengkel spesialis.
Di sisi lain, meski Nissan memiliki jaringan resmi, popularitas dan ketersediaan suku cadangnya masih kalah dibandingkan merek seperti Toyota atau Daihatsu. Jika kamu ingin mobil yang minim risiko biaya besar, Evalia atau Serena dengan CVT lama perlu dipertimbangkan dengan sangat matang.
Hyundai Trajet
Hyundai Trajet adalah MPV keluarga yang sempat populer karena kabinnya luas dan kenyamanannya cukup baik.
Suspensinya empuk, ruang duduk lega, dan cocok untuk perjalanan jauh. Harga bekasnya saat ini sangat terjangkau, bahkan tergolong murah untuk ukuran mobil 7 penumpang.
Namun perlu diingat, usia Trajet kini sudah cukup tua. Mobil dengan usia lebih dari satu dekade tentu memiliki potensi masalah yang lebih besar, terutama pada bagian kaki-kaki dan sistem kelistrikan.
Banyak pengguna mengeluhkan bunyi pada suspensi, komponen kaki-kaki yang cepat aus, serta gangguan listrik ringan yang bisa mengganggu kenyamanan.
Suku cadang orisinal Hyundai juga cenderung lebih mahal dibandingkan LMPV Jepang seperti Avanza atau Xenia.
Walaupun kini Hyundai semakin berkembang di Indonesia, untuk model lama seperti Trajet, ketersediaan part tidak selalu mudah ditemukan di bengkel umum. Kadang pemilik harus memesan terlebih dahulu atau mencari di toko khusus.
Jika kamu memiliki dana perawatan terbatas dan menginginkan mobil yang mudah serta murah diservis di bengkel mana pun, Trajet mungkin bukan pilihan paling aman.
Harga beli murah dengan harga mulai dari Rp38 juta bisa saja justru dibayar lebih banyak dengan biaya perawatan rutin yang lebih sering muncul.
Proton Exora
Proton Exora sempat menarik perhatian karena menawarkan kabin luas dan bahkan varian bermesin turbo pada beberapa tipe.
Dari sisi fitur, Exora cukup kompetitif di kelasnya. Harga bekasnya juga relatif terjangkau untuk mobil 7 seater dengan fitur melimpah, yaitu mulai dari Rp50 juta saja.
Namun, salah satu tantangan terbesar Proton Exora di Indonesia adalah ketersediaan suku cadang dan jaringan bengkel. Proton bukan merek dengan populasi besar di Indonesia. Akibatnya, tidak semua bengkel familiar dengan karakter mesin dan sistemnya.
Untuk varian turbo, perawatan tentu membutuhkan perhatian lebih. Jika terjadi masalah pada komponen mesin atau turbo, biaya perbaikan bisa cukup tinggi. Selain itu, karena stok part tidak sebanyak mobil Jepang, waktu tunggu perbaikan bisa lebih lama.
Bagi keluarga dengan anggaran servis terbatas, kondisi ini tentu kurang ideal. Mobil mungkin nyaman dan fiturnya menarik, tetapi jika setiap kali rusak harus mencari bengkel spesialis atau menunggu part datang, pengeluaran dan kerepotan bisa bertambah.
Kontributor : Dea Nabila
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
Terkini
-
Alphard Versi Murah vs Denza D9, Kamu Tim Mana?
-
Helm Shark Perkenalkan Visor Canggih yang Bisa Berubah Warna dalam Satu Detik
-
Masih Mau Beli Innova? Ini Alternatif Lain yang Patut Dipinang dan Sudah Senyaman Alphard
-
5 Motor Cruiser Mirip Harley-Davidson, Harga Mulai Rp30 Jutaan
-
4 Rekomendasi Mobil Listrik Mungil Rp200 Jutaan yang Jarak Tempuhnya Tembus 300 Km
-
Biaya Servis Mobil Hybrid vs Mobil Bensin Biasa, Mana yang Lebih Hemat?
-
Mengenal Fitur V2L yang Bisa Jadi Sumber Listrik Berjalan LEPAS L8
-
Apakah Sunroof Mobil Bisa Bocor? Ini 7 Rekomendasi Mobil SUV Sunroof Murah
-
JETOUR T2 Tampil Tangguh dengan Konsep Modifikasi NOMAD dan Obsidian di IIMS 2026
-
4 Mobil Hybrid Termurah Per Februari 2026: Berani Pinang meski Ada Risiko Mengintai?