Otomotif / Motor
Selasa, 17 Februari 2026 | 16:10 WIB
Kenapa Lampu Sein Disebut Riting? Ternyata Ini Asal-usul Uniknya yang Jarang Diketahui [Envato Elements/LightFieldStudios].
Baca 10 detik
  • Istilah riting berasal dari serapan bahasa Belanda "richting" yang berarti penunjuk arah kendaraan. 
  • Kata "sein" diserap dari bahasa Inggris "sign" sebagai tanda komunikasi antar pengguna jalan raya. 
  • Variasi sebutan riting dipengaruhi oleh faktor kolonialisme, budaya lokal, dan onomatope suara lampu. 

Suara.com - Saat berkendara, lampu penunjuk arah menjadi bagian vital karena berfungsi memberi sinyal kepada pengendara lain.

Namun, ada fenomena unik di Indonesia: banyak orang justru lebih sering menyebut lampu sein dengan istilah riting.

Di beberapa daerah seperti Jawa, Bali, hingga Sumatera, istilah "riting" sudah sangat melekat dalam percakapan sehari-hari.

Lantas, kenapa lampu sein disebut riting? Dan lampu sein dari bahasa apa sebenarnya? Mari kita bedah sejarah dan fakta menarik di baliknya.

Asal-usul Istilah: Antara Belanda dan Inggris

Pengguna sepeda motor tanpa lampu sein [Envato Elements/DragonImages]

Banyak yang bertanya, apa bahasa Indonesianya riting? Secara resmi dalam bahasa Indonesia, riting disebut sebagai lampu penunjuk arah atau lampu sein.

Namun, secara etimologi, kedua istilah populer ini berasal dari bahasa asing yang berbeda.

Kata sein sendiri berasal dari bahasa Inggris sign yang berarti "tanda". Kata ini kemudian diserap ke dalam kosakata otomotif Indonesia untuk memudahkan penyebutan tanda belok.

Sementara itu, riting merupakan adaptasi dari bahasa Belanda, yaitu richting yang berarti "arah".

Baca Juga: Daftar Mobil Listrik Paling Diminati Januari 2026

Pengaruh kolonial Belanda yang membawa kendaraan bermotor pertama kali ke Indonesia membuat banyak istilah teknik mereka menetap di lidah masyarakat lokal.

Kata richting yang sulit diucapkan kemudian mengalami pergeseran bunyi menjadi lebih sederhana, yaitu riting.

Teori Suara dan Budaya Lokal

Kenapa Lampu Sein Disebut Riting? Ternyata Ini Asal-usul Uniknya yang Jarang Diketahui (Gemini AI)

Selain faktor bahasa, ada teori menarik lainnya. Menurut budayawan Bali, I Wayan Juniartha, julukan riting muncul karena onomatope atau tiruan suara.

Lampu sein yang sedang aktif biasanya mengeluarkan bunyi "rit-rit-rit".

Suara ini dianggap menyerupai kicauan burung pipit yang dalam bahasa lokal disebut riting. Inilah sebabnya masyarakat di Bali dan sekitarnya sangat akrab dengan sebutan tersebut.

Di wilayah lain seperti Medan dan Aceh, sebutan riting bahkan jauh lebih dominan dibandingkan kata sein. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh adaptasi budaya terhadap istilah teknis kendaraan.

Memahami Fungsi dan Masalah Lampu Riting

Selain soal nama, sering muncul pertanyaan teknis seperti: kenapa lampu riting berwarna kuning?

Secara internasional, warna kuning atau jingga dipilih karena memiliki panjang gelombang yang tinggi, sehingga tetap terlihat jelas meski dalam kondisi hujan deras atau kabut, namun tidak menyilaukan mata seperti warna merah.

Sebagai pengendara, Anda juga harus waspada jika terjadi kendala teknis. Misalnya, kenapa lampu riting tidak berkedip? Biasanya hal ini disebabkan oleh flasher yang rusak atau bohlam yang putus.

Ciri-ciri flasher rusak adalah lampu riting hanya menyala diam (tidak berdenyut) atau bahkan tidak menyala sama sekali.

Perlu diingat juga, jika Anda melihat lampu sein nyala 2 secara bersamaan (kiri dan kanan), itu disebut sebagai lampu hazard yang digunakan hanya dalam keadaan darurat, bukan saat berjalan lurus di persimpangan.

Perbedaan istilah antara sein dan riting hanyalah cerminan dari kekayaan linguistik dan sejarah panjang otomotif di Indonesia.

Baik Anda menyebutnya riting maupun sein, fungsinya tetaplah sama: sebagai alat komunikasi krusial untuk menjaga keselamatan di jalan raya.

Kini Anda sudah tahu, kan, lampu riting namanya apa dalam sejarah dan mengapa istilah itu bisa populer? Pastikan selalu mengecek kondisi flasher dan bohlam Anda agar tetap berfungsi optimal saat berbelok!

Load More