- CEO Volkswagen, Oliver Blume, memuji pola perencanaan industri China yang dinilai sangat terstruktur, disiplin, dan sistematis.
- Pujian ini disampaikan di tengah kondisi Volkswagen menghadapi restrukturisasi PHK massal hingga 50.000 pekerjaan di Jerman hingga 2030.
- Penjualan global VW turun 0,5% pada 2025, namun pengiriman kendaraan listrik (BEV) mereka melonjak signifikan mencapai 32 persen.
Suara.com - CEO Volkswagen Oliver Blume memberikan pernyataan mengejutkan mengenai peta persaingan otomotif global yang semakin ketat.
Ia secara terbuka memuji pola perencanaan industri China yang dinilai jauh lebih terstruktur dan disiplin dibandingkan Jerman. Blume menyebut pendekatan Tiongkok berjalan sangat sistematis dengan skala prioritas yang tajam.
“Tiongkok bertindak dengan cara yang sangat terencana dan memiliki prioritas yang jelas, strukturnya diatur secara optimal,” ujar Oliver, dikutip Selasa (24/3/2026).
Pujian ini muncul di tengah krisis yang menghantam Volkswagen dengan cara PHK massal. Bahkan perusahaan raksasa ini berencana memangkas hingga 50.000 pekerjaan di Jerman hingga tahun 2030 sebagai langkah restrukturisasi.
Blume menekankan bahwa industri otomotif Eropa tidak boleh menutup mata terhadap kemajuan pesat di Asia.
“Hal yang sangat positif yang kami alami di Tiongkok adalah tingkat disiplin yang tinggi dan kemauan untuk mengeksekusi,” kata Blume.
Saat ini kondisi pasar Volkswagen di China memang sedang tidak baik-baik saja. Laporan resmi menunjukkan penjualan di Negeri Tirai Bambu merosot 8 persen menjadi 2,69 juta unit.
Persaingan di China sangat brutal dengan kehadiran lebih dari 150 produsen mobil yang bergerak sangat dinamis.
Secara global pengiriman kendaraan Volkswagen pada 2025 tercatat mencapai 8,98 juta unit atau turun tipis 0,5 persen. Meski penjualan mobil konvensional tertekan segmen kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV justru melonjak signifikan hingga 32 persen.
Baca Juga: Robot Power Bank Jadi Solusi Pengisian Daya Mobil Listrik Tanpa Harus Antre SPKLU di Tiongkok
Sebanyak 983.100 unit mobil listrik berhasil dikirimkan ke konsumen dengan kontribusi 11 persen dari total penjualan global.
Lonjakan permintaan BEV di Eropa menjadi motor penggerak utama. Sebaliknya penjualan mobil listrik di China sempat tertahan karena perusahaan sedang menyiapkan model baru hasil pengembangan lokal untuk menghadapi dominasi merek domestik yang semakin kuat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Pesona SUV Mazda yang Seukuran dengan Suzuki S-Presso, Harga Cuma Tak Sampai 200 Juta
-
Irit dan Tangguh, Ini Alasan Kenapa Yamaha Gear Ultima Jadi Skutik Favorit Perempuan
-
Honda, Nissan dan Mitsubishi Jalin Kerja Sama, Ada Udang di Balik Batu
-
Strategi Motul Dekati Konsumen Melalui Jaringan Bengkel Modern B-Quik
-
Suzuki Ignis Kena Recall, Apa Bagian yang Rusak?
-
Tinggalkan Kesan Murah, Begini Wujud Baru Honda BeAT Terbaru dengan Emblem Silver dan Warna Matte
-
Alasan Mitsubishi Xforce Ultimate DS Tetap Relevan Bagi Pengguna yang Punya Mobilitas Tinggi
-
Tren Jual Beli Mobil Bekas Nasional Lesu Pengusaha Mulai Keluhkan Pergeseran Prioritas Konsumen
-
Lupakan Mesin 3 dan 4 Silinder, Begini Pesona Mobil Dua Piston asal Italia
-
Toyota Vios Kini Seharga Motor Matic Bekas, Mending Beli Eks Taksi atau Pribadi? Ini Kata Pakar