Suara.com - Gletser Puncak Jaya di Papua terus mengalami penyusutan. Lapisan es yang selama ini dikenal sebagai “salju abadi” Indonesia tersebut kini hanya tersisa sekitar 2 persen dari luasnya pada 1988.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), luas gletser Puncak Jaya mencapai sekitar 4,3 kilometer persegi pada 1988. Pada September 2025, luasnya tinggal sekitar 0,09 kilometer persegi.
BMKG memperkirakan gletser tersebut dapat hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027 jika laju penyusutan berlanjut.
Mengapa Gletser Puncak Jaya Menyusut?
Gletser merupakan massa es yang terbentuk dari akumulasi salju dalam jangka panjang. Di wilayah tropis, keberadaannya hanya ditemukan pada sejumlah kawasan pegunungan dengan ketinggian sangat tinggi, termasuk Puncak Jaya di Pegunungan Sudirman.
Penyusutan gletser Puncak Jaya berkaitan dengan perubahan suhu dan kondisi iklim.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, menjelaskan bahwa penyusutan gletser terjadi dari sisi luas maupun ketebalan. Fenomena serupa juga terjadi pada gletser tropis di Gunung Kilimanjaro, Afrika.
BMKG menyebut perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pencairan gletser Puncak Jaya. Fenomena El Nino juga dapat mempercepat pencairan karena meningkatkan suhu dan menyebabkan kondisi yang lebih kering.
Ketika jumlah es yang mencair lebih besar dibandingkan akumulasi salju baru, massa gletser akan terus berkurang.
Baca Juga: Dari Wilayah Konflik, Kisah Siswa Mepa Boarding School Berlatih Paskibra Demi Kibarkan Merah Putih
Penyusutan Terjadi dalam Hitungan Dekade
Penelitian UGM yang diterbitkan pada 2025 turut menunjukkan perubahan luas gletser Pegunungan Jayawijaya.
Dengan menggunakan citra satelit Landsat, penelitian tersebut menganalisis perubahan gletser selama periode 1995 hingga 2023. Hasilnya menunjukkan sekitar 95,95 persen luas gletser telah hilang selama periode pengamatan.
Data tersebut menunjukkan penyusutan gletser berlangsung secara konsisten dalam rentang puluhan tahun.
Gletser Puncak Jaya juga memiliki nilai penting bagi penelitian iklim. Inti es dari kawasan tersebut pernah digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi iklim masa lalu.
Jika gletser menghilang, sumber data alami untuk penelitian juga ikut berkurang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Dua Terduga Pelaku Penistaan Agama Konser Musik Ancol Ditangkap, Status Segera Tersangka
-
Serahkan Beasiswa Santri, Taj Yasin Dorong Integrasi STEM dan Nilai Pesantren
-
Kaesang Incar Dapil Jateng V yang Jadi Basis PDIP, Begini Respons Santai Puan
-
Jangan Andalkan APBD! Ini Strategi Media Lokal Hadapi Badai Efisiensi
-
Salju Abadi Puncak Jaya Hampir Punah, Apa yang Terjadi pada Gletser Papua?
-
Tren Ngopi Makin Eksploratif, Dua Kreasi Ini Bikin Ritual Kopi di Rumah Lebih Seru
-
Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'
-
Berkat Beasiswa Pemprov Jateng, Santri Ini Bisa Kuliah di Kedokteran Gigi
-
BRI Dominasi Penyaluran KUR di Lampung Sepanjang Semester I 2026
-
HUT RI ke-81: KAI Beri Diskon Tiket Ekonomi 17 Persen, Berlaku Mulai 14 Agustus 2026