Otomotif / Mobil
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:49 WIB
Dari Rp150 ke Rp17.000: Menelusuri Sejarah Kenaikan Harga BBM dari Soekarno Hingga Prabowo (Suara.com/Faqih)
Baca 10 detik
  • Harga BBM melompat drastis dari Premium Rp150 di Orba hingga Pertamax Rp17.000 era Prabowo.
  • Kendaraan modern berkompresi tinggi wajib menggunakan BBM oktan minimal 92 (Pertamax) demi keawetan mesin. 
  • Memaksa mesin modern meminum BBM subsidi berisiko memicu kerusakan internal dengan biaya perbaikan mahal. 

Suara.com - Para pemilik mobil dan motor keluaran terbaru baru saja mendapat "kejutan" di mesin pompa SPBU. Pada Rabu (10/6/2026), PT Pertamina Patra Niaga mendadak mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi lebih dari 30 persen:

  • Pertamax (RON 92): Naik dari harga sebelumnya menjadi Rp16.250 per liter
  • Pertamax Green 95: Menembus angka psikologis Rp17.000 per liter

Bagi pengguna kendaraan modern, lonjakan harga di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini membawa dilema otomotif sejati.

Tidak seperti di era kakek-nenek kita di mana mobil bisa menenggak bensin apa saja, mesin kendaraan hari ini "disandera" oleh rasio kompresi tinggi yang menuntut oktan tinggi.

Turun kasta ke BBM subsidi bisa berarti malapetaka bagi komponen internal mesin.

Jika kita melihat ke belakang, sejarah pergerakan harga BBM di Indonesia bukan sekadar catatan inflasi dan kebijakan politik, melainkan juga cerminan bagaimana "diet" mesin kendaraan kita berevolusi dari masa ke masa.

1. Era Soekarno & Awal Soeharto

Di masa ini, harga BBM sangat murah karena menyesuaikan nilai mata uang saat itu, meski pada era Soekarno daya beli masyarakat sempat hancur akibat hiperinflasi.

  • 1965 (Era Soekarno): Sekitar Rp0,30 per liter
  • 1966 (Era Soekarno): Naik ke Rp1 per liter (sebelum akhirnya ada redenominasi rupiah).
  • 1980 (Era Soeharto): Premium di angka Rp150 per liter
  • 1998 (Krisis Moneter): Melonjak drastis hingga Rp1.200 per liter

Ini adalah masa keemasan mesin-mesin "badak". Mobil-mobil seperti Toyota Kijang Doyok, Holden lawas, atau motor Honda Astrea menggunakan sistem karburator dengan rasio kompresi mesin yang sangat rendah (sekitar 8:1 atau 9:1).

Mesin-mesin ini tidak "rewel". Diberi BBM beroktan rendah (RON 88) pun mesin tetap meraung tanpa keluhan "ngelitik" (engine knocking). BBM murah, perawatan pun sangat mudah.

Baca Juga: Aksi di Jantung Ibu Kota, Mahasiswa Desak Pemerintah Dengarkan Aspirasi Rakyat

2. Era Reformasi (Habibie, Gus Dur, Megawati)

Melewati badai krisis 1998, harga BBM mulai fluktuatif menyesuaikan harga minyak dunia dan pemulihan ekonomi:

  • 1998-1999 (Era Habibie): Turun menjadi Rp1.000 per liter
  • 1999 (Era Gus Dur): Sempat turun ke Rp600 per liter, lalu naik bertahap hingga Rp1.450 per liter di 2001.
  • 2003 (Era Megawati): Premium merangkak naik mencapai Rp1.810 per liter

Di periode inilah revolusi di bawah kap mesin mulai terjadi. Pemerintah mulai memperkenalkan BBM non-subsidi bernama Pertamax untuk pertama kalinya.

Di jalanan, teknologi karburator pelan-pelan mulai digantikan oleh injeksi elektronik (EFI) yang lebih presisi.

Mesin mulai membutuhkan pembakaran yang lebih bersih, meski sebagian besar masyarakat masih "memaksa" pakai Premium karena harganya yang sangat murah disubsidi pemerintah.

Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

3. Era SBY & Jokowi

Load More